JATIMTIMES - Merasa sehat sering kali membuat seseorang menunda datang ke fasilitas kesehatan. Selama tubuh tidak memberi keluhan berarti, pemeriksaan medis dianggap belum perlu. Padahal, banyak penyakit justru berkembang tanpa gejala mencolok, sunyi, perlahan, dan baru terdeteksi ketika kondisinya sudah tidak ringan.
Di sinilah pemeriksaan darah dan urin memiliki peran penting. Bukan sekadar prosedur laboratorium, tetapi pintu awal membaca kondisi tubuh secara objektif. Angka-angka dalam hasil pemeriksaan kerap menjadi penanda dini gangguan kesehatan yang belum terasa secara fisik.
Baca Juga : Kerajaan Gelang-Gelang: Jejak Kedaton yang Hilang di Lereng Wilis
Dokter Umum RSI Unisma, dr Nikmatus Sholilhah, Sp.PK, menjelaskan bahwa kebiasaan menunggu gejala muncul merupakan pola pikir yang berisiko. Banyak penyakit, mulai dari gangguan metabolik, infeksi, hingga masalah fungsi organ, dapat terdeteksi lebih awal melalui pemeriksaan laboratorium sederhana.
“Tidak semua penyakit datang dengan rasa sakit atau keluhan yang langsung terasa. Justru banyak kondisi yang awalnya hanya tampak dari hasil darah dan urin,” jelasnya dalam sebuah podcast.
Menurut dr Nikmatus, darah dan urin menyimpan informasi penting tentang kerja organ tubuh. Kadar gula darah, fungsi ginjal dan hati, tanda peradangan, hingga infeksi tertentu dapat dikenali lebih cepat melalui pemeriksaan rutin. Tanpa pemeriksaan tersebut, seseorang bisa saja merasa sehat, padahal tubuhnya sedang memberi sinyal awal yang terabaikan.
Ia menambahkan, di lapangan masih banyak masyarakat yang memandang pemeriksaan laboratorium sebagai langkah terakhir, bukan sebagai upaya pencegahan. Akibatnya, tidak sedikit pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah berkembang lebih jauh dan membutuhkan penanganan lebih kompleks.
“Padahal, jika diketahui sejak dini, banyak penyakit bisa dikendalikan, bahkan dicegah agar tidak berkembang menjadi kondisi berat,” ujarnya.
RSI Unisma sendiri terus mendorong pendekatan kesehatan yang lebih preventif. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting, agar kesadaran untuk memeriksakan kesehatan tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya keluhan fisik. Pemeriksaan darah dan urin, menurut dr Nikmatus, seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, bukan tanda bahwa seseorang sedang sakit.
Baca Juga : RSUD Dr Soetomo Siap Jadi World Class Academic Medical Center dan Jalankan Program Hospital Based
Ia juga menekankan bahwa deteksi dini bukan hanya soal usia lanjut. Kelompok usia produktif hingga generasi muda pun perlu membangun kebiasaan memantau kesehatan secara berkala, terutama di tengah gaya hidup yang serba cepat, pola makan tidak teratur, dan tingkat stres yang tinggi.
“Tubuh kita sebenarnya selalu ‘berbicara’. Masalahnya, kita sering baru mau mendengar ketika suaranya sudah terlalu keras,” kata dr Nikmatus.
Melalui pemeriksaan sederhana dan kesadaran untuk tidak menunda, masyarakat diharapkan dapat lebih peka terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Bagi RSI Unisma, perubahan cara pandang ini menjadi kunci untuk menekan risiko penyakit yang datang diam-diam, sebelum terlambat untuk ditangani.
