Bukan Seremonial: Forum Digital UMKM STIE Malangkuçeçwara Menjawab Kebutuhan Nyata

Editor

Dede Nana

14 - Jan - 2026, 05:08

Pengabdian masyarakat STIE Malangkucecwara dengan menggelar forum dengan tema “Strategi Menumbuhkan UMKM di Era Digital: Peluang, Tantangan, dan Solusi” ini digelar di Aula Budaya Yayasan Sedekah Masyarakat Indonesia (SEMAIN), dan diikuti sekitar 50 warga Bale Arjosari yang mayoritas merupakan pelaku UMKM aktif (Anggara/JATIMTIMES)

JATIMTIMES - Transformasi digital bukan lagi wacana elite kampus atau jargon seminar. Di Bale Arjosari, Kota Malang, belum lama ini, digitalisasi justru dibedah dari ruang paling nyata: kebutuhan pelaku UMKM untuk bertahan hidup dan menumbuhkan usaha. Di titik itulah dosen STIE Malangkuçeçwara kembali turun ke masyarakat lewat forum bertajuk UMKM Digital Forum.

Forum dengan tema “Strategi Menumbuhkan UMKM di Era Digital: Peluang, Tantangan, dan Solusi” ini digelar di Aula Budaya Yayasan Sedekah Masyarakat Indonesia (SEMAIN), dan diikuti sekitar 50 warga Bale Arjosari yang mayoritas merupakan pelaku UMKM aktif. Bukan sekadar duduk mendengar, peserta datang membawa keresahan yang nyata: pasar yang makin digital, sementara cara jualan masih konvensional.

1

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dikoordinatori Enggar Nursasi, SE., M.M., Ak., CA., dengan menghadirkan dua pemateri utama: Happy D., SPsi., M.M., pengusaha sekaligus pembina UMKM, serta Dr. Hanif Mauludin, M.M., dosen STIE Malangkuçeçwara. Tim pengabdian juga melibatkan Dr. Wiyarni, M.Si., Ak., dan Benita Rahmania, SE., M.M.

Baca Juga : Bupati Malang Ajak HKTI Sejahterakan Petani, Hubungkan ke Pasar Industri

Di awal forum, Dr. Wiyarni menegaskan bahwa digitalisasi UMKM yang diangkat kali ini bukan agenda sepihak dari kampus. Tema tersebut lahir dari aspirasi pelaku UMKM Bale Arjosari sendiri, yang pada tahun sebelumnya telah mengikuti pelatihan akuntansi dasar.

“Kalau tahun lalu kita belajar akuntansi dasar untuk UMKM, sekarang kami menindaklanjuti harapan bapak ibu sekalian. Banyak yang ingin produknya bisa dijual lebih luas, lebih mudah, dan itu jawabannya ada di digitalisasi,” jelasnya.

3

Ia menekankan, kesinambungan materi pengabdian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan menjadi bentuk komitmen kampus agar pengabdian masyarakat tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berdampak langsung.

Komitmen tersebut juga ditegaskan Ketua LPPM STIE Malangkuçeçwara, Dra. Siti Munfaqiroh, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyebut digitalisasi bukan isu masa depan, melainkan realitas yang sudah menyatu dengan keseharian.

“Sejak bangun tidur sampai tidur lagi, kita berhubungan dengan teknologi. Ada yang sudah lincah, ada yang masih belajar pelan-pelan. Nah, sore ini kita belajar bagaimana teknologi itu bisa membantu usaha yang sedang kita jalankan,” ujarnya.

2

Masuk ke sesi materi, Happy D. langsung menabrak satu persoalan klasik UMKM: pola pikir. Menurutnya, teknologi tidak akan berdampak apa pun jika pelaku usaha masih melihatnya sebagai sesuatu yang rumit dan menakutkan.

“Teknologi itu alat bantu. Tapi yang menentukan berhasil atau tidak tetap manusianya. Pelaku usaha harus mau berkreasi, mau memperkenalkan produk, dan mau memanfaatkan teknologi digital yang sudah ada,” kata Happy.

4

Pengusaha kerupuk rambak asal Malang ini juga membagikan pengalamannya membina UMKM lintas daerah melalui media sosial. Banyak di antara mereka yang awalnya tidak saling mengenal, namun mampu berkembang setelah menerapkan strategi digital sederhana yang ia bagikan.

“Saya sering bikin kelas dan diskusi lewat media sosial. Banyak yang awalnya tidak kenal saya, tapi mau belajar, mau mencoba, dan akhirnya usahanya jalan,” ungkapnya.

Namun ia mengingatkan, teknologi bukan jaminan sukses instan. Tanpa konsistensi dan kesiapan mental, digitalisasi justru bisa jadi beban baru bagi pelaku UMKM.

Baca Juga : Makin Ramah Lingkungan, 200 Becak Listrik Akan Layani Wisatawan di Kota Malang

Sementara itu, Dr. Hanif Mauludin menautkan langsung digitalisasi dengan kesejahteraan hidup. Menurutnya, kemampuan ekonomi pelaku UMKM sangat ditentukan oleh keberanian mereka memanfaatkan peluang yang ada, termasuk di ruang digital.

“Kehadiran kami di sini, termasuk menghadirkan Mbak Happy, adalah ikhtiar agar bapak ibu pelaku UMKM bisa meningkatkan penghasilan. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada di tangan kita,” ujarnya.

Ia secara lugas menyebut media sosial dan grup WhatsApp sebagai pasar potensial yang sering kali diabaikan.

“Punya grup WA, punya akun media sosial, itu sudah pasar. Jangan cuma dipakai rasan-rasan. Itu bisa jadi ladang jualan dan nambah omzet,” tegasnya, disambut anggukan peserta.

Forum berlangsung interaktif. Diskusi mengalir, pertanyaan bermunculan, dan antusiasme peserta terlihat jelas. Bahkan, salah satu peserta secara terbuka berharap kegiatan ini tidak berhenti di forum diskusi semata.

“Kami berharap ada kelas lanjutan yang lebih praktik, supaya kami benar-benar bisa langsung menerapkan teknologi digital untuk usaha,” ujar seorang peserta.

Melalui forum ini, STIE Malangkuçeçwara kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang hadir di tengah masyarakat, membaca kebutuhan riil, dan ikut mendorong penguatan UMKM dari level paling dasar, agar tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar tumbuh di era digital yang tak menunggu siapa pun.