Puasa Ramadan: Dokter RSI Unisma Paparkan Strategi Sehat bagi Penderita Penyakit Dalam

19 - Feb - 2026, 08:17

Dr. H.R.M. Hardadi Airlangga, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma (foto: Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Memasuki bulan suci Ramadan, umat Muslim mulai menjalankan ibadah puasa dengan ritme baru dalam pola makan dan aktivitas harian. Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki riwayat penyakit dalam, perubahan ini memerlukan perhatian khusus agar puasa tetap berjalan lancar dan tubuh tetap terjaga kesehatannya.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. H.R.M. Hardadi Airlangga, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma. Ia menegaskan bahwa puasa yang baik bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang kesiapan mental, pengaturan medis, serta pengendalian diri.

Baca Juga : Sejarah Awal Penamaan Salat Tarawih: Dari Qiyamu Ramadan hingga Tradisi 20 Rakaat

Menurutnya, fondasi utama puasa adalah niat. Ketika seseorang memulai Ramadan dengan niat ibadah yang kuat, hal itu menjadi energi psikologis yang berdampak pada kondisi fisik. Ketenangan batin membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan jam makan dan istirahat selama satu bulan penuh.

Ia menjelaskan bahwa Ramadan sesungguhnya merupakan kelanjutan dari proses pembiasaan di bulan-bulan sebelumnya. Puasa sunah di Rajab dan Syaban dapat menjadi latihan fisik dan spiritual, sehingga ketika Ramadan tiba, tubuh tidak kaget menghadapi pola baru.

Bagi pasien dengan diabetes mellitus, hipertensi, maupun dislipidemia atau gangguan lemak darah, konsultasi medis tetap menjadi langkah penting meski puasa sudah berjalan. Evaluasi kondisi kesehatan dan penyesuaian jadwal obat perlu dilakukan agar ibadah tetap aman.

“Bersiasat itu penting. Harus ada strategi supaya tetap sehat selama puasa,” ujarnya, Kamis, (19/2/2026).

Pada pasien diabetes misalnya, jadwal minum obat yang biasanya pagi hari dapat disesuaikan saat berbuka, sesuai arahan dokter. Saat takjil, penderita diabetes dianjurkan mengonsumsi tiga butir kurma dan air putih, kemudian minum obat sebelum melanjutkan makan utama. Cara ini membantu menjaga kestabilan kadar gula darah hingga waktu sahur.

Ia juga mengingatkan agar tidak berlebihan saat berbuka. Setelah sekitar 14 jam tanpa asupan cairan dan makanan, tubuh membutuhkan penyesuaian. Berbuka sebaiknya diawali dengan air putih dan kurma, lalu memberi jeda dengan menunaikan salat Maghrib sebelum makan besar.

Untuk makan utama, porsi nasi dianjurkan secukupnya, sekitar 100 gram, dilengkapi sayur, buah, dan ikan. Jika makan terlalu banyak di awal berbuka, tubuh akan terasa berat dan bisa mengganggu kenyamanan saat salat tarawih.

Asupan cairan menjadi perhatian penting. Kebutuhan minimal delapan hingga sepuluh gelas air per hari tetap harus dipenuhi dengan cara dicicil sejak berbuka hingga sahur. Kekurangan cairan dapat memicu lemas, sakit kepala, hingga menurunnya konsentrasi.

Baca Juga : BSI Fest Ramadan 2026, Tawarkan Haji dan Umrah Melalui Tabungan Emas

Menu yang dianjurkan selama Ramadan adalah sayur, buah, dan ikan sebagai sumber serat serta protein sehat. Telur dan susu juga penting, terutama bagi usia di atas 50 tahun yang membutuhkan tambahan kalsium dan protein untuk menjaga massa otot serta kepadatan tulang.

Meski identik dengan hidangan manis, konsumsi gula tetap harus dibatasi. Manis secukupnya saat berbuka sudah cukup untuk mengembalikan energi. Kebiasaan berlebihan justru berisiko meningkatkan kadar gula darah dan berat badan.

Aktivitas fisik tetap dianjurkan selama Ramadan dengan penyesuaian intensitas. Bagi yang terbiasa berolahraga pagi, tempo dan jarak dapat dikurangi. Alternatif lainnya adalah berolahraga mendekati waktu berbuka agar risiko dehidrasi lebih kecil.

"Olahraga malam juga diperbolehkan, namun sebaiknya berupa peregangan ringan agar tubuh tetap memiliki waktu istirahat yang cukup," katanya.

Menurut dr. Hardadi, puasa adalah momentum memperbaiki pola hidup. Menahan diri tidak hanya berlaku pada siang hari, tetapi juga saat berbuka dan sahur. Jika dijalankan dengan disiplin dan strategi yang tepat, Ramadan dapat menjadi periode yang menyehatkan.

Ia berharap setelah satu bulan berpuasa, umat Muslim tidak hanya memperoleh pahala ibadah, tetapi juga manfaat kesehatan yang nyata, baik secara fisik maupun batin.