JATIMTIMES - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,83 persen pada Juli 2026 dengan indeks harga konsumen (IHK) mencapai 111,55. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, IHK Kota Malang meningkat dari 108,48 menjadi 111,55.
Sementara, Kota Malang mengalami deflasi secara bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,20 persen pada Juli 2026. Adapun inflasi secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,46 persen.
Baca Juga : Semester I 2026 Gemilang, BPR Bank Daerah Lamongan Catat Laba Naik 30 Persen
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan inflasi tahunan dipicu kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. “Pada Juli 2026 terjadi inflasi year on yearsebesar 2,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,55,” kata Umar, Senin (3/8/2026).
Kenaikan harga tercermin dari meningkatnya indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks kelompok makanan, minuman dan tembakau, pakaian dan alas kaki, perumahan, kesehatan, transportasi, hingga perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan sebesar 12,20 persen. Selanjutnya diikuti kelompok transportasi sebesar 4,07 persen, kesehatan 3,65 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,85 persen, makanan, minuman dan tembakau 2,27 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,08 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 2,03 persen.
Sementara kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,67 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,45 persen, pendidikan 1,20 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,73 persen. Seluruh kelompok pengeluaran tersebut mengalami kenaikan harga dibandingkan Juli 2025.
BPS mencatat komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, bensin, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), jeruk, telepon seluler, daging sapi, sigaret kretek tangan (SKT), vitamin, angkutan udara, makanan hewan peliharaan, biaya akademi atau perguruan tinggi, air kemasan, alpukat, mi, biaya servis, obat gosok, kontrak rumah, dan bawang putih.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi year on year antara lain emas perhiasan, bensin, beras, minyak goreng, Sigaret Kretek Mesin, jeruk, telepon seluler, dan daging sapi,” imbuh Umar.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi tahunan, yakni telur ayam ras, tomat, bawang merah, cabai rawit, udang basah, mainan anak, dan ikan mujair. “Komoditas yang memberikan andil deflasi year on year antara lain telur ayam ras, tomat, bawang merah, cabai rawit, udang basah, mainan anak, dan ikan mujair,” jelasnya.
Baca Juga : Mulai 17 Agustus 2026, Balik Nama Sertifikat Tanah Ditargetkan Selesai Maksimal 30 Hari, Ini Aturan Barunya
Meski secara tahunan masih terjadi inflasi, perkembangan harga pada Juli 2026 menunjukkan penurunan secara bulanan. Umar menyebut tingkat deflasi month to month mencapai 0,20 persen, sedangkan inflasi year to date sebesar 1,46 persen.
Deflasi bulanan terutama dipengaruhi turunnya harga bawang merah, telur ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, tarif kendaraan daring roda dua, udang basah, selada, dan tarif kendaraan daring roda empat. Sebaliknya, komoditas seperti bensin, beras, biaya sekolah dasar, telepon seluler, bawang putih, alpukat, nasi dengan lauk, dan jeruk masih memberikan andil terhadap inflasi bulanan.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,79 persen. Disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,64 persen, transportasi 0,52 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,23 persen, kesehatan 0,14 persen, sedangkan kelompok lainnya memberikan kontribusi di bawah 0,10 persen dan tidak ada kelompok pengeluaran yang menyumbang deflasi secara tahunan.
Sedangkan inflasi tahunan Kota Malang pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,24 persen dengan inflasi kumulatif 1,44 persen. Sementara pada Juli 2024 inflasi tahunan berada di angka 1,83 persen dengan inflasi kumulatif 0,56 persen, sehingga laju inflasi tahunan pada Juli 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya.
