Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Belajar dari Abu Bakar dan Umar soal Pemimpin Jangan Antikritik

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

12 - Jun - 2026, 09:28

Placeholder
Ilustrasi khutbah Jumat. (Foto: laman Masjid Raya KH Hasyim Asyari)

JATIMTIMES - Khutbah Jumat kali ini mengangkat pentingnya sikap terbuka terhadap kritik, terutama bagi mereka yang diberi amanah untuk memimpin. Di tengah berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat memiliki peran untuk turut mengawasi serta mengingatkan agar arah kebijakan tetap berpihak pada kemaslahatan bersama.

Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah ruang yang kebal dari nasihat dan koreksi. Sebaliknya, seorang pemimpin dituntut memiliki kerendahan hati untuk menerima masukan demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Baca Juga : Golkar Situbondo Gelar Nobar Piala Dunia Berhadiah, Pererat Kedekatan dengan Masyarakat

Melalui kisah keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, khutbah ini mengajak jemaah memahami bahwa kritik yang disampaikan dengan cara yang baik merupakan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab bersama. Nilai inilah yang perlu terus dihidupkan agar lahir pemimpin yang amanah, adil, dan senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلْعَلِيِّ ٱلْكَبِيرِ، ٱلْغَفُورِ ٱلشَّكُورِ، يُعِزُّ مَنْ يَشَاءُ بِطَاعَتِهِ، وَيُذِلُّ مَنْ يَشَاءُ بِمَعْصِيَتِهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَرْجُو رَحْمَتَهُ وَنَخْشَىٰ عَذَابَهُ. وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَاحِبِ ٱلْخُلُقِ ٱلْعَظِيمِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ ٱلطَّاهِرِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ٱللَّهِ، ٱتَّقُوا ٱللَّهَ فِي ٱلسِّرِّ وَٱلْإِعْلَانِ، وَتَمَسَّكُوا بِطَاعَتِهِ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، فَإِنَّ ٱلتَّقْوَىٰ نُورُ ٱلْقُلُوبِ، وَسَبَبُ قَبُولِ ٱلْأَعْمَالِ، وَمِفْتَاحُ ٱلْفَوْزِ وَٱلْإِقْبَالِ

Ma’asyiral Muslimin hafizhakumullah, 
Kritik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah kepemimpinan. Siapa pun yang diberi amanah memimpin, setinggi apa pun kedudukannya, pasti akan berhadapan dengan berbagai masukan, teguran, bahkan koreksi dari orang-orang yang dipimpinnya. Hal tersebut juga dialami oleh para khalifah besar dalam sejarah Islam yang dikenal adil, bijaksana, dan memiliki ketakwaan yang tinggi.

Tidak dapat dimungkiri, kritik terkadang terasa pahit. Terlebih jika disampaikan secara terbuka dengan ungkapan yang tegas. Bagi sebagian pemimpin, situasi seperti ini bisa menjadi ujian besar bagi ego dan kebesaran jiwanya. Apakah ia akan menerima nasihat dengan lapang dada, atau justru menganggapnya sebagai ancaman terhadap wibawanya.

Namun, Sayyidina Umar bin Khattab رضي الله عنه telah memberikan teladan yang sangat berharga kepada umat ini. Beliau tidak menjadikan kritik sebagai alasan untuk marah ataupun membungkam pihak yang berbeda pendapat. 

Sebaliknya, Umar menyikapi setiap masukan dengan ketenangan dan kebijaksanaan.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan terletak pada kekuasaan yang dimilikinya, melainkan pada kemampuannya untuk menerima nasihat, melakukan evaluasi, serta memperbaiki berbagai kekurangan yang mungkin masih ada dalam kepemimpinannya.

Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Diriwayatkan, suatu ketika Umar bin Khattab berada di tengah kerumunan masyarakat. Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri dan berkata dengan suara lantang, "Bertakwalah kepada Allah, wahai Umar!"

Ucapan itu membuat sebagian orang terkejut. Mereka memandang bahwa seorang khalifah sebesar Umar tidak sepantasnya diperingatkan seperti itu di hadapan banyak orang. Beberapa di antara mereka bahkan hendak menegur laki-laki tersebut agar diam.

Namun sebelum mereka bertindak, Umar segera menghentikannya. Dengan penuh ketenangan beliau berkata:

"Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mengatakannya, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mendengarnya."

Ucapan Umar itu mengandung makna yang dalam. Seorang pemimpin sejatinya membutuhkan nasihat dari masyarakatnya. Kritik bukanlah bentuk penghinaan, melainkan sarana untuk menjaga amanah kepemimpinan agar tetap berada di jalan yang benar.

Ma’asyiral Muslimin hafizhakumullah,
Pada kesempatan lain, Umar bin Khattab pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Beliau memulai dengan berkata, "Wahai manusia, dengarlah dan taatilah!"

Namun, di tengah khutbah tersebut, seorang laki-laki tiba-tiba menyela dan berkata, "Kami tidak mau mendengar dan menaati engkau, wahai Umar!"

Suasana pun seketika menjadi hening. Akan tetapi, Umar tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Dengan tenang beliau bertanya, "Mengapa demikian, wahai Abdullah?"

Laki-laki itu menjawab, "Karena setiap orang di antara kami hanya memperoleh sepotong kain, sementara engkau mengenakan pakaian yang lengkap."

Umar tidak membalas dengan ancaman ataupun hukuman. Beliau justru meminta orang tersebut untuk tetap berada di tempatnya.

Setelah itu Umar memanggil putranya, Abdullah bin Umar. Abdullah kemudian menjelaskan kepada orang banyak bahwa kain yang dikenakan Umar berasal dari bagiannya sendiri yang diberikan kepada sang ayah, sehingga Umar dapat mengenakan pakaian yang lebih sempurna.

Mendengar penjelasan itu, masyarakat pun merasa tenang. Orang yang sebelumnya menyampaikan keberatan akhirnya berkata dengan hormat:

"Sekarang, kami mendengar dan akan menaati, wahai Amirul Mukminin."

Kisah ini sebagaimana disebutkan oleh Muhammad As-Shallabi dalam Umar bin Khattab Syakhsiyatuhu wa Ashruhu (Suriah: Dar Ibni Katsir, 2009), halaman 109–110.

Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dua peristiwa tersebut memperlihatkan betapa agungnya keteladanan Umar bin Khattab. Beliau bukan hanya dikenal sebagai pemimpin yang adil, tetapi juga sosok yang terbuka terhadap kritik, sekalipun disampaikan secara langsung di hadapan masyarakat luas.

Bahkan, Umar memandang orang yang menunjukkan kekurangannya sebagai pihak yang berjasa baginya. Imam Al-Ghazali mengutip perkataan Umar:

كان عمر رضي الله عنه يقول: رحم الله امرأ أهدى الي عيوبي

Artinya: "Umar bin Khattab pernah berkata, 'Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kesalahanku'." (Ihya' 'Ulumiddin, jilid III, halaman 62).

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Beliau tidak hanya bersedia menerima kritik, tetapi bahkan mendorong masyarakat untuk mengoreksi dirinya apabila melakukan kekeliruan.

Dalam salah satu khutbahnya, Abu Bakar berkata:

فإن أحسنت فأعينوني وإن زغت فقوموني

Artinya: "Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Namun jika aku menyimpang, luruskanlah aku." (As-Suyuthi, Jam'ul Jawami', jilid XI, halaman 82).

Ma’asyiral Muslimin hafizhakumullah,
Abu Bakar juga tidak pernah meminta rakyat untuk menaati dirinya secara mutlak tanpa pertimbangan. Beliau justru mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin harus berada dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Beliau menegaskan:

Baca Juga : Ramalan Zodiak Hari Ini 12 Juni 2026: Sagitarius Dapat Peluang Baru, Pisces Waspada Pengeluaran Tak Terduga

فأطيعوني ما أطعت الله فإذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم

Artinya: "Maka taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatiku." (As-Suyuthi, Jam'ul Jawami', halaman 82).

Kerendahan hati Abu Bakar juga tampak dalam ungkapannya berikut:

قد وليت أمركم ولست بخيركم

Artinya: "Sungguh, aku telah diamanahkan untuk memimpin urusan kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik di antara kalian." (Yusuf Al-Kandahlawi, Hayatus Shahabah, jilid XI, halaman 217).

Perkataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah simbol kemuliaan pribadi, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan.

Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Karena itu, musyawarah menjadi tradisi yang terus dijaga oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab ketika menghadapi persoalan yang tidak ditemukan ketentuan tegasnya dalam Al-Qur'an maupun hadis.

As-Suyuthi menjelaskan:

جمع رؤوس الناس وخيارهم فاستشارهم، فإذا أجمع رأيهم على أمر... قضى به. وكان عمر رضي الله عنه يفعل ذلك

Artinya: "Abu Bakar mengumpulkan para pemuka dan orang-orang terbaik untuk bermusyawarah. Apabila mereka telah bersepakat dalam suatu pendapat, maka beliau memutuskan berdasarkan hasil kesepakatan tersebut. Umar juga melakukan hal yang sama." (As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa', halaman 118).

Dalam musyawarah, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat, memberikan kritik, serta menawarkan solusi. Tidak ada ruang bagi sikap merasa paling benar. Semua pandangan dihargai demi meraih kemaslahatan bersama.

Pemimpin yang membuka diri terhadap kritik dan evaluasi adalah pemimpin yang benar-benar mengamalkan nilai-nilai musyawarah sebagaimana dicontohkan oleh para khalifah terdahulu.

Padahal, Abu Bakar dan Umar merupakan dua sahabat utama yang memiliki kedudukan sangat istimewa di sisi Rasulullah ﷺ. Namun, kemuliaan tersebut tidak menjadikan mereka anti-kritik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر وعمر

Artinya: "Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab." (HR Ahmad).

Ma’asyiral Muslimin hafizhakumullah,
Dari berbagai teladan tersebut, para pemimpin di negeri ini hendaknya dapat mengambil pelajaran berharga. Kepemimpinan yang baik bukanlah kepemimpinan yang menutup diri dari kritik, melainkan kepemimpinan yang bersedia mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki diri.

Kritik tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Justru kritik merupakan bentuk kepedulian agar seorang pemimpin tidak tergelincir dari amanah yang diembannya.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kritik memiliki fungsi untuk mengingatkan ketika pemimpin lalai, memperbaiki kekeliruan, menyatukan masyarakat di belakang pemimpinnya, serta merekatkan kembali hubungan yang renggang di tengah umat. Dengan demikian, kritik merupakan bagian dari partisipasi masyarakat dalam menjaga keadilan dan kebaikan bersama. (Fathul Bari, jilid I, halaman 184).

Oleh sebab itu, kritik hendaknya dipahami sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat dan bangsa. Kehadiran kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan salah satu syarat terwujudnya kepemimpinan yang amanah, adil, dan berpihak kepada kemaslahatan rakyat.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى, semoga para pemimpin negeri ini senantiasa diberi petunjuk untuk berlaku adil, menjaga amanah, serta memiliki kelapangan hati dalam menerima nasihat. Dan semoga kita semua menjadi masyarakat yang bijak dalam menyampaikan kritik, santun dalam berbeda pendapat, serta selalu mengedepankan persatuan demi kebaikan bangsa dan negara.
Amin Ya Rabbal Alamin

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah II

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلَالِ وَجْهِهِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّهِ. ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ٱللَّهِ، ٱتَّقُوا ٱللَّهَ، وَرَاقِبُوهُ فِي ٱلسِّرِّ وَٱلْعَلَنِ، وَٱعْلَمُوا أَنَّ ٱلْأَمَانَةَ دِينٌ، وَأَنَّ ٱلْخِيَانَةَ دَمَارٌ لِلْفَرْدِ وَٱلْمُجْتَمَعِ

ٱللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ ٱلْخِيَانَةِ، فَإِنَّهَا بِئْسَتِ ٱلْبِطَانَةُ. ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ ٱلصِّدْقِ وَٱلْأَمَانَةِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ ٱلْغَدْرِ وَٱلْخِيَانَةِ. ٱللَّهُمَّ ٱرْزُقْنَا خَشْيَتَكَ فِي ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَادَةِ، وَٱجْعَلْنَا مِمَّنْ يُؤَدُّونَ ٱلْحُقُوقَ إِلَىٰ أَهْلِهَا.  ٱللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَقْوَاتِنَا، وَأَبْعِدْ عَنَّا ٱلْحَرَامَ، وَأَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ. ٱللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ ٱلْمُسْلِمِينَ، وَٱهْدِ قَادَتَهُمْ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَهُمْ، وَٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ ٱلْمُسْلِمِينَ


Topik

Agama Khutbah Jumat pemimpin jangan antikritik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kediri Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

Agama

Artikel terkait di Agama