Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Ramai Sosis Siap Makan Disebut Picu Kanker, Benarkah? Ini Penjelasan Dokter

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

11 - Feb - 2026, 18:57

Placeholder
Potret sosis dan nugget. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Isu soal sosis siap makan yang disebut-sebut bisa memicu kanker ramai dibicarakan di media sosial. Kekhawatiran itu mencuat setelah Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengingatkan bahaya konsumsi makanan ultra-proses dalam jangka panjang, terutama jika sudah dibiasakan sejak anak-anak.

“Sekarang ada sosis yang siap makan kan? Siap-siap kanker aja 20 tahun lagi, terutama anak-anak,” tegas Prof. Aru, dikutip dari Instagram Kumparan, Rabu (11/2/2026).

Baca Juga : Belum Kantongi SLHS, Dapur SPPG MBG di Kota Batu Jalani Inspeksi Kesehatan Lingkungan

Pernyataan tersebut langsung memantik perdebatan. Banyak orang tua mulai bertanya-tanya, apakah benar sosis, nugget, dan kornet bisa meningkatkan risiko kanker?

Prof. Aru menjelaskan, masyarakat perlu lebih cermat membaca label nutrition facts pada kemasan makanan. Menurutnya, daftar komposisi bisa menjadi petunjuk penting apakah sebuah produk tergolong aman atau justru perlu diwaspadai.

“Kalau sebuah makanan sudah ada kayak begini di bungkusnya, hati-hati. Kalau kamu baca tuh macem-macem, ini udah pake pengawet, kamu jauhi. Ini namanya Ultra-processed Food (UPF),” ujarnya.

Kandungan pada sosis dan nugget yang dinilai jadi pemicu kanker. (Foto: Instagram)

Contoh kandungan pada sosis dan nugget yang ditunjukkan oleh Prof Aru. (Foto: Instagram)

Ia membagi makanan dalam beberapa kategori. Pertama, non-processed food, yakni bahan mentah seperti sayur, buah, dan daging segar. Kedua, processed food, yaitu makanan yang dimasak di rumah, yang menurutnya masih relatif aman.

Kategori yang paling perlu diwaspadai adalah ultra-processed food. Ini adalah makanan yang telah melalui proses industri panjang hingga bentuk aslinya berubah dan kandungan alaminya berkurang drastis.

“Kalau ultra-processed itu yang sudah diolah oleh pabrik, sehingga munculnya bentuknya udah beda. Ayam sudah jadi nugget. Nugget-nugget di supermarket itu belum tentu ada ayamnya tuh,” sambungnya.

Produk seperti sosis, nugget, dan kornet termasuk dalam kelompok daging olahan. Prof. Aru menyoroti kandungan nitrat yang kerap digunakan sebagai pengawet sekaligus pemberi warna merah agar tampak lebih menarik.

“Kalau yang namanya daging di-processed itu pake nitrat. Nah itu bikin kanker, zat nitrat itu. Yang bikin kornet beef enak itu, warna merahnya itu nitrat. Pokoknya kalau daging di-processed, jauhi," tegasnya.

Ia mengingatkan, risiko bisa meningkat bila konsumsi dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang, terlebih pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Baca Juga : Truk Boks Tabrak Fuso Mogok di Jombang Picu Macet Lalin

Pandangan serupa disampaikan dokter umum sekaligus Certified Health Coach, dr. Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K. Ia mengaku tetap memandang makanan sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, namun dengan tanggung jawab.

“Walaupun saya selalu bilang makanan harus bisa dinikmati secara bertanggung jawab, nggak apa-apa dimakan sesekali, tapi daging olahan kemasan seperti nugget, sosis, kornet adalah salah satu makanan yang secara aktif sangat saya batasi untuk diri sendiri dan keluarga,” jelasnya.

Ia menyebut, ada dua alasan utama mengapa daging olahan perlu dibatasi.
“Karena satu, daging olahan itu masuk sebagai karsinogen kategori 1 yang berarti memiliki bukti kuat dapat menyebabkan kanker pada manusia. Dan dua, secara nilai gizi juga kurang oke. Protein yang menengah dari sumber yang juga kurang jelas dengan sodium dan lemak jenuh serta kalori yang cenderung lebih tinggi,” paparnya.

Karena itu, konsumsi daging olahan di keluarganya sangat dibatasi. “Walaupun ya tetap masih dikonsumsi lah ya sesekali, terutama kalau lagi nggak sempat masak atau perlu cepat banget, tapi itu pun sejarang mungkin, kayak sebulan, dua bulan sekali. Jenisnya juga kita pilih-pilih, sebisa mungkin cari yang komposisi dagingnya itu lebih banyak,” lanjutnya.

Ia memahami alasan banyak orang memilih sosis atau nugget karena praktis, terutama untuk bekal anak. Namun ia mengingatkan agar orang tua tidak menjadikannya menu harian.

“Jadi ya begitulah, ya walaupun saya mengerti daging olahan sangat praktis terutama untuk bekal. Tapi ya please harus diperhatiin. Sumber protein itu udah banyak banget dan sekarang juga udah ada banyak banget inspirasi resep meal prep protein yang lebih sehat dan nggak kalah enak,” tutupnya.

Dari penjelasan para dokter, yang menjadi sorotan bukan sekadar sosisnya, melainkan konsumsi rutin daging olahan dalam jangka panjang. Kandungan nitrat, sodium tinggi, dan proses industri yang mengubah bentuk asli makanan menjadi faktor yang patut diwaspadai.

Artinya, mengonsumsi sosis atau nugget sesekali tidak serta-merta menyebabkan kanker. Namun jika menjadi kebiasaan harian, apalagi sejak usia anak-anak, risikonya bisa meningkat dalam jangka panjang.
Kunci utamanya ada pada pola makan seimbang, variasi sumber protein, dan kebiasaan membaca label komposisi sebelum membeli produk kemasan. Semog informasi ini bermanfaat ya. 


Topik

Kesehatan Sosial sosial siap makan kanker



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kediri Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni