Ramadan dan Kesehatan: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Berpuasa dan Vitamin Apa yang Bisa Membantu
18 - Feb - 2026, 08:52
JATIMTIMES - Puasa di bulan Ramadan bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga perubahan besar pada ritme makan dan aktivitas harian. Umumnya, seseorang berpuasa sekitar 15–16 jam: tanpa makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam. Dalam rentang waktu ini, tubuh beralih ke “mode energi” yang berbeda, profil hormon ikut berubah, dan kebiasaan makan sering menjadi lebih terarah.
Dalam berbagai studi tentang puasa Ramadan dan pola makan dengan jendela waktu terbatas, sering dicatat adanya penurunan berat badan yang moderat serta perbaikan pada sejumlah indikator metabolik. Namun, faktor penentunya bukan sekadar “puasa itu sendiri”, melainkan bagaimana seseorang makan dan memulihkan diri di luar jam puasa. Misalnya, pada salah satu studi teracak pada pria dengan obesitas, selama satu bulan puasa terjadi penurunan berat badan sekitar 3%, sementara massa lemak turun hampir 6%. Ini bukan janji hasil instan, melainkan dampak dari pola makan yang lebih tertib, sikap moderat, dan kedisiplinan.
Baca Juga : Doa setelah Tarawih dan Witir Lengkap dengan Doa Kamilin, Arab-Latin serta Artinya
Karena itu, di jejaring sosial Muslim Salam.life saat ini ramai dibahas persiapan Ramadan: pengguna saling berbagi tips sahur dan berbuka, berdiskusi cara menjaga stamina sepanjang hari, dan sering menanyakan vitamin apa yang tepat selama puasa. Menjawab ketertarikan ini, tim Salam.life menyiapkan artikel yang praktis dan benar-benar berguna, dengan merangkum rekomendasi yang mudah dipahami berdasarkan sumber medis tepercaya dan akal sehat, agar pembaca dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang dan sadar.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Berpuasa
Setelah sahur, tubuh pertama-tama memakai glukosa dan cadangan glikogen yang tersimpan di hati dan otot. Cadangan ini umumnya cukup untuk beberapa jam. Seiring puasa berlanjut, tubuh semakin aktif memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi. Pada saat yang sama, terjadi perubahan hormon: kadar insulin cenderung menurun, dan sensitivitas sel terhadap glukosa meningkat.
Selain itu, tubuh mengaktifkan mekanisme alami pembaruan dan “daur ulang” komponen sel. Proses ini sebenarnya berjalan terus-menerus, tetapi dalam kondisi asupan makanan terbatas, efeknya bisa terasa lebih nyata. Karena itulah banyak orang merasakan “reset” selama Ramadan – bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Namun, penting untuk diingat: manfaat ini sangat bergantung pada sikap moderat. Kurang tidur, makan berlebihan saat berbuka, dan kurang cairan di luar jam puasa dapat menghapus manfaat puasa.
Moderasi sebagai Inti Puasa
Dalam Al-Qur’an, puasa dijelaskan sebagai jalan menuju disiplin diri dan ketakwaan. Ada pula pengingat yang sangat relevan untuk kesehatan: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
Maknanya sangat praktis. Ramadan bukan bulan untuk ekstrem, bukan pula waktu “menguji tubuh” tanpa batas. Ini adalah masa menyeimbangkan pertumbuhan spiritual dengan perhatian pada kondisi fisik, serta menata ulang kebiasaan – dengan tetap menjaga diri.
Kurma dan Berbuka: Tradisi dengan Manfaat yang Jelas
Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ berbuka dengan kurma, dan jika tidak ada, maka dengan air. Tradisi ini punya penjelasan fisiologis yang masuk akal.
Kurma mengandung karbohidrat yang mudah digunakan tubuh, serat, serta mineral penting seperti kalium. Sekitar 100 g kurma (kurang lebih 3–4 butir) dapat menyumbang porsi signifikan kebutuhan kalium harian dan sekitar 7 g serat. Makanan seperti ini membantu memulihkan energi dengan lembut setelah seharian berpuasa dan “menyalakan” kembali pencernaan tanpa membebani lambung. Karena itu, memulai berbuka dengan beberapa butir kurma bukan hanya mengikuti sunnah, tetapi juga pendekatan yang selaras dengan kebutuhan tubuh.
Apakah Perlu Vitamin Selama Ramadan?
Bagi kebanyakan orang sehat, vitamin bukan kewajiban, selama pola makan cukup seimbang. Jika sahur mencakup sumber protein, karbohidrat kompleks, sayur atau buah, dan saat berbuka ada variasi serta moderasi, tubuh biasanya memperoleh sebagian besar kebutuhan mikronutrien dari makanan.
Namun, kehidupan sehari-hari tidak selalu ideal. Sahur yang terburu-buru, kurangnya sayur, stres tinggi, dan kurang tidur dapat membuat asupan menjadi kurang lengkap. Dalam situasi seperti ini, suplemen vitamin bisa dipertimbangkan sebagai dukungan – bukan pengganti makanan.
Vitamin Apa yang Paling Sering Dipertimbangkan
Yang paling sering dibahas adalah vitamin B kompleks, karena berperan dalam metabolisme energi dan fungsi sistem saraf. Di tengah beban kerja, kelelahan, dan ritme Ramadan, sebagian orang merasa lebih “stabil” ketika asupan vitamin B tercukupi, tentu dengan catatan tidur dan pola makan tidak benar-benar berantakan.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Legi 18 Februari 2026: Tidak Beraktivitas dari Tinggi ke Rendah
Vitamin C juga sering dipilih sebagai dukungan dasar, terutama bila konsumsi buah dan sayur segar minim. Vitamin ini larut air, tetapi pada sebagian orang dapat mengganggu lambung, sehingga lebih nyaman diminum bersama makanan.
Vitamin D relevan bagi mereka yang jarang terpapar sinar matahari. Ini termasuk vitamin larut lemak, sehingga lebih masuk akal dikonsumsi di luar jam puasa bersamaan dengan makanan yang mengandung lemak.
Sementara itu, zat besi bukan rekomendasi umum untuk semua orang. Konsumsinya tepat bila ada defisiensi yang terbukti atau atas anjuran dokter, karena konsumsi mandiri dapat memicu keluhan pencernaan.
Dalam beberapa kasus, orang juga mempertimbangkan elektrolit – bukan minuman manis, melainkan produk untuk membantu mengganti garam mineral. Ini bisa relevan bila muncul sakit kepala, lemas, atau rasa haus yang berat, terutama di cuaca panas atau ketika aktivitas fisik tinggi. Namun, tetap perlu moderasi dan perhatian pada kondisi kesehatan masing-masing.
Kapan Waktu yang Lebih Nyaman untuk Minum Vitamin
Umumnya, orang mengikuti pola yang sederhana. Vitamin larut air seperti B dan C lebih sering diminum saat sahur. Vitamin larut lemak seperti A, D, E, dan K lebih cocok diminum setelah berbuka atau bersama makan malam. Pendekatan ini biasanya lebih mudah ditoleransi lambung dan sejalan dengan cara tubuh menyerap nutrisi.
Kapan Perlu Lebih Hati-Hati
Bagi yang memiliki penyakit kronis, rutin minum obat, sedang hamil, atau menyusui, sebaiknya berdiskusi dengan tenaga kesehatan sebelum berpuasa dan sebelum menambahkan suplemen apa pun. Dalam Islam, menjaga kesehatan adalah nilai penting, dan keselamatan selalu menjadi prioritas.
Kesimpulan: Penyegaran Spiritual dan Fisik
Ramadan dapat menjadi momen penyegaran spiritual dan fisik bila dijalani dengan sadar. Asupan cairan yang cukup di luar jam puasa, sahur yang bergizi, berbuka yang moderat, tidur yang dijaga, serta perhatian pada sinyal tubuh sering jauh lebih menentukan daripada suplemen apa pun.
Vitamin dapat menjadi tambahan yang membantu, tetapi tidak menggantikan fondasi. Hal terpenting dalam Ramadan adalah keseimbangan, moderasi, dan niat untuk melewati bulan ini dengan manfaat bagi hati dan tubuh.
