Refleksi Hari Pendidikan Nasional | Kediri TIMES

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

May 02, 2016 15:38
 Mushafi Miftah, Dosen IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo
Mushafi Miftah, Dosen IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo

SETELAH memperingati hari RA Kartini dan Hari Buruh,  masyarakat Indonesia selanjutnya memperingati hari Pendidikan Nasional atau disingkat Hardiknas.

Memang peringatan ini, tidak seramai peringatan hari RA Kartini, akan tetapi tetap saja momentum ini memiliki simpati dari masyarakat terutama mereka para pengelola lembaga pendidikan dan masyarakat pada umumnya.

Peringatan ini tidak hanya mereka ejawantahkan melalui kegiatan bersifat ceremoni seperti seminar pendidikan, Talk Show dan lainnya tapi juga melalui ucapan selamat baik melalui spanduk maupun melalu media sosial.

Ucapan selamat atas tibanya Hardiknas tersebut, bisa dimaknai sebagai ejawantah rasa syukur atas kontribusi lembaga pendidikan dalam mencerdaskan anak bangsa selama ini dan harapan adanya refleksi betapa pentingnya pendidikan bagi anak bangsa.

Pendidikan anak bangsa merupakan sendi dan pondasi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Karena pada tahun-tahun yang akan datang, generasi bangsa ini akan memegang peranan penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Suatu bangsa bisa hidup lebih inovatif tergantung pada kualitas pendidikan generasinya. Sehingga menjadi kewajaran apabila Hardiknas menjadi momentum lahirnya ekspektasi perbaikan sistem pendidikan nasional. 
Harus diakui pada ranah pendidikan, Indonesia tergolong lemah.

Bahkan sistem pendidikan di Indonesia sangat bermasalah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pelajar-pelajar yang terlibat prilaku asusila. Fakta ini membuktikan bahwa proses belajar mengajar di sekolah mengalami masalah sehingga transformasi Ilmu Pengetahuan di Sekolah tidak terserap dengan baik oleh peserta didiknya.

Di tengah sistem pendidikan bermasalah, Indonesia justru mengalami krisis diberbagai sektor, mulai dari politik, ekonomi, keagamaan, dan sosial budaya. 

Masalah-masalah yang sedang kita hadapi sejatinya melibatkan orang-orang besar sebagai "tokoh" pemerannya. Banyak tokoh-tokoh besar negeri ini yang berpartisipasi, bahkan menjadi pemeran utama dalam lahirnya sebuah problematika yang muaranya pasti menyengsarakan rakyat.

Kita juga harus menyadari bahwa trouble maker dari problem-problem tersebut adalah sosok-sosok yang lahir dari rahim sebuah partai politik. Ternyata sebagian besar partai politik pada masa kini bersifat temporal dalam menyerukan kebaikan.

Faktanya, janji-janji kemakmuran hanya berfungsi sebagai penghantar kekuasaan serta pemulus mendapatkan sebuah kursi. Sehingga banyak kalangan yang menilai bahwa banyak partai politik yang gagal dalam mencetak kader dan sosok yang benar-benar peduli terhadap bangsa ini.

Sajian fakta yang menggambarkan sering terlambatnya pengentasan problem kebangsaan ini menunjukkan beberapa hal penting. Keseriusan dan kepekaan dalam menyelesaikan masalah kini menjadi hal yang sangat jarang kita temui.

Acapkali kita mendapati fenomena "dehidrasi kinerja" di sekitar pejabat dan elit politik kita. Masyarakat yang begitu merindukan keadilan hukum harus menggaruk kepala ketika mendengar beberapa informasi atau berita yang kontras dalam satu periode.

Secara bersamaan seorang pencuri sandal dihukum penjara bertahun-tahun, sementara koruptor yang menghabisi begitu banyak uang rakyat hanya menerima hukuman beberapa bulan penjara, bahkan ada juga yang divonis bebas.

Terlepas dari model pasal dan hukum yang digunakan, perbedaan vonis semacam ini melahirkan konsep pandangan bahwa hukum di negeri ini ternyata mudah diutak-atik. Hal demikian jika kita memiliki nama, kekuasaan, dan kekayaan.

Kini kita harus menerima kenyataan yang sangat pahit. Dimana sebagian besar aspirasi rakyat kecil “diamputasi” begitu saja di bawah telapat egoisme yang sangat tinggi dari sebagian besar pejabat dan elit politik kita.

Kepentingan individu dan golongan mengalahkan keluhuran fungsi primordial mereka. Tugas mereka sebagai penyalur aspirasi masyarakat tidak lagi berjalan pada rel yang semestinya, namun telah bergeser menjadi orang yang memposisikan ego sebagai orientasi akhir dari karir politiknya.

Begitu banyak kebingungan, keresahan, kejutan, dan kejengkelan jika kita terus mencermati kasus-kasus serta upaya penyelesaiannya di negeri ini. Selain itu kita juga harus menunggu sangat lama jika kita mengharapkan terbentuknya masyarakat yang sejahtera.

Semua karena aspirasi masyarakat tentang keluhan dan kondisi mereka tidak lagi sampai pada forum para wakil rakyat, karena diamputasi oleh egoisme para wakil itu sendiri.

Yang seringkali kita saksikan dalam forum para wakil rakyat adalah pertengkaran dan saling mempertahankan kepentingan masing-masing.

Namun, fenomena ini hingga belum juga disadari oleh para pemangku jabatan, baik dalam pemerintahan, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, semestinya kita perlu meneladani Rasulullah SAW dalam membangun peradaban sosial di Madinah.

Yang mana pada saat itu, Rasulullah bermodal keluhuran moralitas, sehingga Islam bisa bermetamorfosis dengan pesat. Pada masa itu Nabi tidak hanya menjadi pemimpin sebuah Negara tapi juga menjadi orang tua yang mendidik, dan guru yang mencerahkan bagi umat Islam.

Hal demikian juga terjadi Indonesia ketika masa awal-awal penyebaran Islam. Pada awal penyebaran Islam, Walisongo tidak hanya menjadi aktor penyebaran Islam, tapi juga menjadi teladan bagi masyarakat dalam segala hal, baik itu sosial politik, pendidikan, ekonomi, agama dan budaya.

Atas keluhuran akhlak para Wali inilah Islam bisa diterima oleh Masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Meraoke. Kala itu, bangsa Indonesia tidak hanya menjadi masyarakat yang sejahtera tapi juga harmonis, tenteram dan damai.

Pengentasan beberapa kasus-kasus kebangsaan di negeri ini memang penuh dengan kontroversi dan sanggup melahirkan berbagai spekulasi dan analisis.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa upaya penyelesaian problematika tersebut juga melahirkan sejumlah "kejutan". Dalam sebuah analisa sederhana, penyelesaian berbagai problem bangsa yang seringkali menemui jalan buntu. (*)

*) Dosen IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Topik
Opini Refleksi hardiknas

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya