Harus Ada Terobosan Metode untuk Generasi Google | Kediri TIMES
Wawancara: Prof Imam Suprayogo

Harus Ada Terobosan Metode untuk Generasi Google

May 15, 2015 08:52
Ilustrasi (Foto: redaksijurnalkampus.blogspot)
Ilustrasi (Foto: redaksijurnalkampus.blogspot)

Teknologi informasi dan komunikasi sudah demikian pesat. Perkembangannya bukan lagi hitungan tahun, tapi sudah hari. Sementara teknologi pembelajaran pendidikan kita masih belum secepat laju perkembangan teknologi. Akibatnya, banyak pola pembelajaran lama yang tertinggal. Bagaimana menyikapi itu? Apa solusinya? Berikut wawancara TIMESINDONESIA dengan Prof Imam Suprayogo, pakar pendidikan yang juga mantan Rektor UIN Malang. 

***

Prof, teknologi sekarang makin maju. Namun pendidikan kita masih belum bisa menunjukkan progres luar biasa jika dibandingkan dengan perkembangan dunia. Anda melihatnya seperti apa?
Memang benar. Para praktisi pendidikan, seperti guru, dosen, kyai, dan siapa saja, yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran sekarang ini sedang dihadapkan pada tantangan yang amat berbeda dibanding saat saya masih muda dulu. Dahulu, 20 atau 30 tahun yang lalu, para siswa dan bahkan mahasiswa di perguruan tinggi, belum mengenal apa yang disebut dengan komputer, foto copy. TV saja masih hitam putih, dan tidak semua orang memilikinya. 

Lalu untuk kuliah?
Ya begitu itu. Pada waktu itu, buku-buku literatur juga amat terbatas jumlahnya. Mencari buku literartur pada waktu itu amat sulit. Memang para dosen mewajibkan mahasiswa agar membaca berbagai macam literatur, tetapi jangankan para mahasiswanya, dosennya sendiri pun kelihatannya juga belum tentu memilikinya. Nah, keterbatasan buku literatur seperti yang digambarkan itu menjadikan kuliah di perguruan tinggi tidak seperti sekarang ini. Para dosen, oleh karena mengerti bahwa para mahasiswanya tidak memiliki buku literatur, maka yang dilakukan sehari-hari hanya mendekte. Di ruang-ruang kuliah, dosen membaca buku yang dimilikinya itu pelan-pelan, sementara itu para mahasiswanya mendengarkan dan mencatat apa saja yang disampaikan oleh dosennya. Hanya sekali-kali, mungkin saja oleh karena capek mendekte, dosen mengomentari apa yang telah dibacanya itu. 

Itu yang kemudian berubah Prof. Sekarang kondisinya sudah beda. Apakah Anda melihat, perguruan tinggi atau sekolah telah menyadari hal itu?
Sesungguhnya harus sadar. Sekarang keadaannya sudah berubah secara total. Saya setuju, sekarang ini sedang dan telah terjadi revolusi informasi dan komunikasi yang luar biasa. Apa saja yang dahulu belum terbayangkan, sekarang sudah tersedia dan mendapatkannya benar-benar mudah. Jangankan sekadar foto copy, mesin ketik, dan TV, sekarang komputer, laptop, HP, IPAD, internet, dan apa saja telah tersedia dengan amat mudah. Siapapun di segala umur telah memiliki dan menggunakannya dengan mudah. 

Apa kampus atau lembaga pendidikan melihat manfaat dari modernisasi informasi itu?
Tentu, ada yang melihat seperti itu. Yang pasti, ketersediaan berbagai peralatan elektronik seperti tersebut itu menjadikan informasi sangat mudah diperoleh dengan cepat dan murah. Berbagai buku, tulisan, foto, video, dan gambar-gambar apa saja dapat diperoleh dengan cepat. Bahkan, lewat fasilitas HP yang dimiliki oleh siapa saja, maka berbagai informasi bisa dibagi dengan amat cepat. Jika 20 atau 30 tahun yang lalu, orang kesulitan mendapatkan buku, maka sekarang ini buku dimaksud dapat segera diperoleh lewat peralatan modert tersebut.  Melalui teknologi pula, dengan cara membuka You Tube atau program lainnya, siapapun bisa mendapatkan informasi terkait apa saja. Misalnya tentang ekonomi, politik, agama, pendidikan, filsafat, seni, ilmu pengetahuan, berbagai aliran idiologi, dan bahkan apa saja. 

Itu yang membedakan ya Prof?
Benar. Lihat saja, jika dahulu, sekedar mendapatkan bahan kuliah, mahasiswa harus mencari dan menunggu dalam waktu lama, maka sekarang ini lewat You Tube atau Google, semua orang tanpa terkecuali sedemikian mudah mendapatkannya. Tatkala ingin mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan sekarang ini orang tinggal membuka internet. 

Memang benar sekarang semudah itu, tapi apakah teknologi itu bisa teraplikasi secara baik dalam pendidikan kita?
Begini, sesungguhnya dengan membanjirnya informasi seperti itu, maka jika pendidikan dan pengajaran hanya dimaknai sekadar menyampaikan dan menerangkan bahan pelajaran kepada para siswa, maka sebenarnya tugas dimaksud sudah digantikan oleh Google dan You Tube, dan sejenisnya itu. Informasi selain datangnya bisa cepat bagaikan kilat, maka jumlahnya juga bagaikan banjir, artinya sedemikian banyak. Sebagai contoh, bidang agama misalnya, bahwa dulu untuk mencari Al Qur’an saja sedemikian sulit. Sekarang ini, HP para siswa sudah terisi dengan Al Qur’an secara komplit. Dan, sekarang ini, semua orang telah memiliki alat komunikasi itu. 

Melihat demikian besar manfaatnya, apa metodologi dan model pembelajaran sekarang masih sesuai dengan perkembangan itu?
Ini yang hars segera kita pikirkan. Memang, menyadari terhadap revolusi informasi seperti sekarang ini, seharusnya diciptakan model pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan tantangan itu. Jika para guru atau dosen di kelas atau di ruang kuliah hanya melakukan kegiatan sama dengan apa yang dilakukan oleh para guru dan dosen dua puluh dan bahkan tiga puluhan tahun yang lalu, maka ruang kelas atau kuliah akan dirasakan sebagai penyiksaan terhadap para siswa dan mahasiswa. Bisa jadi apa yang diterangkan oleh guru dan dosen sebenarnya sudah lama dibaca oleh murid atau mahasiswanya. 

Jadi seharusnya seperti apa?
Ya kehadiran internet, You Tobe, Google, dan semacamnya seharusnya direspon secara tepat oleh para guru dan dosen sekarang ini. Jika sekarang ini, para pejabat yang menangani pendidikan masih berbicara tentang kurikulum, bahan pelajaran, dan apalagi juga tentang cara mengajarkannya, maka sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Informasi dan ilmu pengetahuan, selain cepat datang juga cepat berganti. Datangnya informasi itu bukan lagi bertahap, tetapi juga berbarengan bagaikan banjir itu. Orang tidak lagi mencari sesuatu yang awet, tetapi adalah yang bekualitas dan produk mutakhir. Berhenti sebentar saja , maka akan segera tertinggal jauh. 

Saran Anda Prof untuk negara?
Para ahli dan praktisi pendidikan, serta tidak terkecuali para pengambil keputusan di bidang pendidikan, seharusnya mencari dan menemukan pendekatan baru untuk mendidik generasi You Tube dan Google ini. Jika mereka itu tidak cepat memahami dan merespon secara tepat, maka pendidikan tidak akan relevan dengan zaman. Selain itu lulusan yang dihasilkan, atau bahkan bangsa ini secara keseluruhan, disadari atau tidak, akan ketinggalan zaman. (*)

Topik
Prof Imam Suprayogo

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya