Belajar Kepemimpinan dari Ayam dan Kerbau | Kediri TIMES

Belajar Kepemimpinan dari Ayam dan Kerbau

Apr 17, 2015 15:49
Profesor Dr Imam Suprayogo
Profesor Dr Imam Suprayogo
Oleh Prof Imam Suprayogo *

Menyebut ayam dan juga kerbau, apalagi dikaitkan dengan kepemimpinan, bukan berarti mengajak membicarakan sesuatu yang sepele. Atau juga ingin membandingkan sesuatu yang penting dengan hal yang tidak sepatutnya. Ayam dan juga kerbau adalah makhluk Allah, yang ternyata dalam hal-hal tertentu, bisa dijadikan alat untuk memahami sesuatu yang pelik menjadi sederhana sehingga mudah dipahami.

Ayam dan kerbau terhadap anak-anaknya, menurut hemat saya, sangat menarik untuk dijadikan alat penjelas tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin memperlakukan anak buahnya. Induk ayam, selalu memperlakukan semua anaknya dengan penuh kasih sayang dan adil. Setelah beberapa hari mengeram dan kemudian menetas semuanya, induk ayam sangat bertanggung jawab terhadap semua anaknya. 

Dengan penuh kasih sayang, induk ayam memberikan perhatian pada semua anak-anaknya yang baru menetas dari telurnya. Anak ayam itu oleh induknya dibawa ke tempat-tempat yang mungkin ada makanan. Induk ayam kemudian membimbing dan mengajari anak-anaknya yang belum berdaya itu, mencari makan cara berlindung tatkala keadaan berbahaya.

Lalu...

Dalam hal mencarikan makanan, dengan menggunakan paruh dan kakinya, induk ayam membongkar tanah, sampah atau apa saja yang ada di depannya. Tatkala diperoleh makanan, cacing misalnya, semua anaknya dipanggil untuk bersama-sama berebut makanan yang didapatkannya itu. 
Induk ayam tidak pernah lelah berjuang mencarikan makanan dan juga melindungi dari siapapun yang datang. Baik itu pengganggu atau pun memangsa anak-anaknya itu. Induk ayam, demi anaknya, berani melawan siapapun.

Untuk menyelamatkan anaknya, pilihannya adalah hidup atau mati. Tatkala muncul elang yang mengancam keselamatan anaknya, semuanya dipanggil dan dilindungi di bawah badannya. Demikian pula, pada waktu malam, anak-anaknya didekap agar terasa hangat dan tidak kedinginan. Bahkan ketika datang orang, yang sekiranya akan mengganggu, induk ayam akan melawannya. 

Bagaimana dengan kerbau?

Perilaku ayam dalam mengasuh dan menyelamatkan anak-anaknya itu ternyata jauh berbeda dari kerbau. Binatang pemamah biak itu, terhadap anaknya juga sangat menyayanginya. Akan tetapi, rasa sayang induk kerbau terhadap anaknya tidak sampai harus membela mati-matian sebagaimana yang dilakukan oleh induk ayam.

Kerbau hanya menunggu dan berkumpul, tetapi di antara mereka sama sekali tidak ada persatuan dan apalagi solidaritas. Menghadapi musuh, sesama kerbau saling membiarkan. Mereka berkumpul tetapi tidak saling membela. 

Induk kerbau terhadap anak-anaknya hanya sebatas mengamankan, tetapi tidak tampak bertanggung jawab. Kerbau yang ada di hutan, biasanya pada waktu malam hari dan harus istirahat. Mereka berkumpul dan membentuk lingkaran. Mereka memiliki kebiasaan, kepalanya diposisikan di bagian luar, sehingga masing-masing saling membelakangi.

Di bagian tengah dari lingkaran itu ditaruh anak-anaknya. Itulah cara kerbau dalam menyelamatkan anak-anaknya dari berbagai bahaya yang mengancam. Binatang yang seringkali dijadikan contoh kebodohan itu, ternyata memiliki naluri tentang cara menyelamatkan dirinya sendiri dan juga anak-anaknya. 

Anehnya....?

Namun anehnya, tatkala datang binatang buas dan mengambil anaknya, srigala misalnya, induk kerbau tersebut tidak peduli. Sekalipun anaknya diterkam dan dimakan oleh binatang buas, induk dan kerbau dewasa yang berkumpul di tempat itu, semuanya membiarkan. Tidak ada pembelaan terhadap anaknya sendiri.

Kejadian itu tidak dirasakan sebagai masalah atau sesuatu yang harus diselesaikan. Hal itu sama saja, ketika datang kawanan srigala, lalu menyerang salah satu kerbau, maka kerbau lainnya juga tidak peduli. Masing-masing membiarkan kawannya diserang dan dimakan bersama-sama oleh binatang pemangsanya hingga habis. Padahal, jika daging kerbau yang dimangsa itu sudah tidak tersisa lagi, maka selanjutnya akan berganti membeset-beset kerbau lainnya secara bersama-sama pula. 

Perilaku ayam dan kerbau dimaksud rasanya tepat digunakan untuk menggambarkan kepemimpinan seseorang. Seorang pemimpin, sebagaimana induk ayam terhadap anak-anaknya, seharusnya sanggup memberi perhatian dan membagi kasih sayang kepada semua yang dipimpinnya.

Berkat perhatian dan kasih sayang itu, maka anak buah, akan merasa senang, terlindungi, merasa terjamin keselamatan dan kehidupannya. Sebagai manusia, mereka membutuhkan perlindungan, perhatian, diakui akunya, dan dihormati keberadaannya. Selain itu, mereka juga memerlukan rasa aman, diperlakukan secara adil, dihargai, diberi harapan, dan juga dipikirkan masa depannya. Induk ayam ternyata melakukan hal itu. Namun berbeda dengan ayam, adalah kerbau. Anak kerbau dilindungi oleh induknya, tetapi tidak dibela dan bahkan dibiarkan tatkala sedang menderita atau terkena ancaman.

Bagaimana seorang pemimpin...?

Seorang pemimpin seharusnya bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya. Pemimpin tidak boleh membiarkan anak buahnya menanggung resiko sendiri. Suatu saat, mereka dianggap penting. Namun sebaliknya, ketika sudah tidak diperlukan lagi, mereka dibiarkan dan bahkian seolah-olang tidak mengenalnya. Perilaku anak buah yang tidak tulus, kalkulatif, dan bahkan bekerja sekadar memenuhi tuntutan formal, biasanya lahir dari watak pemimpinnya sendiri.

Maka, siapapun yang sedang menjalankan tugas kepemimpinan, seharusnya memperhatikan kedua jenis binatang tersebut. Tegasnya, seorang pemimpin jangan meniru kerbau. Sebaliknya, tirulah induk ayam. Yaitu, melindungi, membimbing, dan mencukupi kebutuhannya, baik yang bersifat fisik maupun psikisnya. (*)

Topik
Inspirasi

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya