Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Empat Nilai Kearifan Samin, Resep Selesaikan Konflik Era Medsos

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

24 - Jan - 2026, 09:04

Placeholder
Focus group discussion (FGD) yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di dua pusat ajaran Samin, yakni Dusun Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, serta Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Konflik sosial yang dipicu perbedaan pendapat di media sosial kian sering mencuat. Adu argumen tak jarang berujung gesekan di dunia nyata. Namun di tengah situasi itu, Indonesia sejatinya memiliki warisan nilai lokal yang sudah lama menjadi penawar konflik.

Guru besar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) Prof Dr Moh. Fadli menyebut, kearifan lokal yang tumbuh di berbagai komunitas Nusantara menyimpan mekanisme penyelesaian sengketa yang relevan hingga hari ini. Salah satunya berasal dari ajaran Samin atau Sedulur Sikep.

Baca Juga : Update Banjir-Longsor di Pujon: Jumlah Sekolah Terdampak Bertambah

“Negeri yang plural dan kaya akan kearifan lokal yang seharusnya jadi resep mujarab untuk menyelesaikan konflik, melalui ajaran dan nilai leluhur,” kata Prof Fadli, Sabtu (24/1/2026).

Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di dua pusat ajaran Samin, yakni Dusun Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, serta Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

Focus group discussion (FGD) yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di dua pusat ajaran Samin, yakni Dusun Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, serta Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

Awal 2026 ini, Prof Fadli bersama tim peneliti kembali melakukan riset lapangan untuk menggali model penyelesaian konflik berbasis kearifan lokal. Penelitian terbaru itu dilakukan di dua pusat ajaran Samin, yakni Dusun Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, serta Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Riset tersebut melanjutkan rangkaian penelitian sebelumnya yang telah menelaah peran kearifan lokal di sejumlah komunitas adat. Mulai dari Baduy, Tengger, Sasak, Nagari Tabek-Batusangkar di Sumatera Barat, Tenganan Pegringsingan Bali, wilayah Aceh (Aceh Besar, Banda Aceh, dan Takengon), hingga Kabupaten Lebong, Bengkulu.

Suasana FGD bersama warga ajaran Samin, yakni Dusun Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, serta Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

Suasana FGD bersama warga ajaran Samin, yakni Dusun Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, serta Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

Menurut Prof Fadli, ajaran Samin selama ini kerap dipahami secara keliru. “Ajaran Samin yang dulunya ‘distereotipkan’ sejak penjajahan Belanda hingga saat ini, juga masih menyisakan pemahaman yang tidak utuh tentang Masyarakat Samin,” ujarnya saat memaparkan hasil focus group discussion (FGD) yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di dua lokasi penelitian.

Tim riset FH UB yang terlibat dalam kajian ini terdiri dari Dr Ngesti Dwi Prasetyo, Dr Siti Rohmah, Dr (c) Jufriyanto Puluhulawa, dan Dr Mustafa Lutfi, dengan dukungan pemandu lokal Agni Istigfar. Fokus utama para tim riset adalah mengkaji bagaimana masyarakat Samin menyelesaikan konflik secara internal melalui nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.

Hasil kajian menunjukkan, masyarakat di kedua lokasi masih mempraktikkan ajaran Sedulur Sikep sebagai pedoman hidup. Dari praktik tersebut, tim peneliti mengidentifikasi empat nilai utama yang berfungsi sebagai instrumen penyelesaian konflik yang efektif dan berkelanjutan.

Pimpinan Sedulur Sikep Dusun Jepang, Bojonegoro, Bambang Sutrisno menjelaskan bahwa keempat nilai tersebut membentuk satu rangkaian etika sosial yang saling berkaitan.

Nilai pertama adalah kejujuran. Dalam tradisi Samin, kejujuran menjadi fondasi utama setiap proses musyawarah. Pihak yang berselisih dituntut menyampaikan persoalan secara terbuka dan apa adanya.

“Kejujuran memastikan bahwa proses klarifikasi berjalan di atas pijakan fakta, bukan manipulasi atau narasi sepihak,” terang Prof Fadli, merujuk temuan lapangan. 

Baca Juga : Inspiratif! Polisi Malang Rangkul Driver Ojol, Bagi Jaket hingga Ajak Budidaya Ikan

Penelitian etnografis juga mencatat bahwa sikap polos dan jujur telah lama menjadi ciri masyarakat Samin, sekaligus benteng dari konflik yang dipicu prasangka atau isu liar.

Setelah ruang dialog terbuka, nilai sabar berperan meredam emosi. Kesabaran mengajarkan individu untuk tidak bereaksi tergesa-gesa dan menghindari tindakan yang memperuncing konflik.

Dalam ajaran Samin Surosentiko, prinsip ini tergambar dalam ungkapan, “lakonono sabar, trokal, nrimo,” ujar  Bambang. Dalam praktik penyelesaian sengketa, sabar berfungsi sebagai mekanisme de-eskalasi yang memberi ruang dialog lebih jernih dan produktif.

Nilai berikutnya adalah trokal, yang dimaknai sebagai kesungguhan untuk menuntaskan persoalan. Trokal menuntut pihak-pihak yang berselisih hadir dalam musyawarah, menjalankan kesepakatan, memperbaiki perilaku, serta memulihkan hubungan secara konkret. Penyelesaian konflik tidak berhenti pada kata sepakat, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Tahap terakhir adalah nrimo atau ikhlas. Nilai ini bukan sekadar pasrah, melainkan kedewasaan sosial untuk menerima hasil musyawarah dengan lapang dada. Tujuannya menghentikan siklus konflik, mengikis sisa dendam, dan meneguhkan kesepakatan sebagai keputusan final bersama.

Penelitian FH UB menegaskan, keempat nilai tersebut, kejujuran, sabar, trokal, dan nrimo, tidak berdiri sendiri, melainkan bekerja sebagai satu kesatuan. Kesabaran tanpa kesungguhan tidak akan menghasilkan perdamaian yang utuh. Sebaliknya, upaya tanpa kejujuran dan keikhlasan hanya menjadi formalitas belaka.

Di tengah konflik yang mudah tersulut di era digital, kearifan lokal masyarakat Samin menawarkan sudut pandang alternatif. “Ajaran yang sederhana namun mendalam ini menunjukkan bahwa resep untuk hidup damai mungkin telah lama tertanam di tanah Nusantara, menunggu untuk dipelajari dan diadaptasi dalam konteks kekinian,” ujar Prof Fadli.

Ia berharap, hasil riset ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga pembuat kebijakan dalam mengembangkan pendekatan penyelesaian sengketa yang lebih humanis dan partisipatif.

“Pendekatan yang berakar pada nilai budaya lokal adalah kunci penting dalam membangun keadilan sosial yang berkelanjutan dan berkeadaban,” pungkas Prof Fadli. 


Topik

Peristiwa Samin masyarakat Samin konflik era medsos kearifan lokal



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kediri Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy