Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Saintifikasi Jamu Jadi Sorotan, Departemen Biologi UB Kupas Regulasi dan Etika Herbal Modern

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

14 - May - 2026, 14:48

Placeholder
Kegiatan bertajuk “Regulasi, Legalitas, dan Etika Pengembangan Produk Jamu Berbasis Sains” Departemen Biologi UB menghadirkan Direktur Utama PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk., Is Heriyanto, sebagai narasumber utama. (ist)

JATIMTIMES - Pengembangan jamu berbasis sains kini menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan industri biofarmaka nasional. Melalui kuliah tamu yang digelar Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) belum lama ini, mahasiswa diajak memahami bahwa inovasi produk herbal Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar warisan pengobatan tradisional. Regulasi, legalitas, etika, hingga pembuktian ilmiah menjadi bagian penting agar jamu mampu bersaing di pasar global.

Kegiatan bertajuk “Regulasi, Legalitas, dan Etika Pengembangan Produk Jamu Berbasis Sains” itu menghadirkan Direktur Utama PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk, Is Heriyanto, sebagai narasumber utama. Kuliah tamu tersebut diikuti mahasiswa, khususnya peserta mata kuliah saintifikasi jamu, yang ingin memahami tantangan sekaligus peluang industri herbal modern berbasis evidence-based medicine di tengah perkembangan sektor biofarmaka nasional dan internasional.

Baca Juga : Viral Main Game dan Ngerokok saat Rapat, Anggota DPRD Jember Akhirnya Minta Maaf

Dalam paparannya, Is Heriyanto menegaskan bahwa pengembangan jamu modern saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengalaman empiris turun-temurun. Menurut dia, produk herbal harus memiliki dasar ilmiah yang kuat melalui tahapan penelitian yang komprehensif, mulai dari pengujian laboratorium, standardisasi bahan baku, hingga pelaksanaan uji klinis.

“Pengembangan produk jamu modern tidak cukup hanya berbasis penggunaan tradisional, tetapi harus diperkuat dengan pembuktian ilmiah agar dapat diterima dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Is Heriyanto.

Ia juga menjelaskan pentingnya aspek legalitas dalam industri herbal, seperti sertifikasi, izin edar BPOM, jaminan keamanan produk, serta perlindungan hak kekayaan intelektual. Menurut dia, seluruh aspek tersebut menjadi fondasi agar produk herbal Indonesia mampu berkembang menjadi komoditas unggulan yang memiliki daya saing global.

Selain regulasi, etika pengembangan produk herbal turut menjadi perhatian utama. Is Heriyanto  menekankan pentingnya transparansi data ilmiah, perlindungan konsumen, keberlanjutan sumber daya alam, serta penghormatan terhadap pengetahuan tradisional Indonesia sebagai bagian yang tidak boleh diabaikan dalam proses saintifikasi jamu.

Sementara itu, pengampu mata kuliah saintifikasi jamu, Dinia Rizqi Dwijayanti,  menyampaikan bahwa kuliah tamu tersebut sangat relevan bagi mahasiswa karena memberikan pemahaman menyeluruh terkait proses pengembangan produk herbal berbasis sains. Menurut dia, penelitian laboratorium hanyalah salah satu tahapan, sebab hilirisasi produk juga membutuhkan kesiapan regulasi dan legalitas.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa saintifikasi jamu merupakan proses multidisiplin yang melibatkan sains, teknologi, etika, serta keberlanjutan lingkungan dan sosial,” kata Dinia.

Ia menambahkan, integrasi antara penelitian akademik dan kebutuhan industri menjadi langkah strategis untuk melahirkan produk herbal Indonesia yang inovatif, aman, terstandar, dan mampu bersaing secara global. Karena itu, kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia industri dinilai penting dalam mempercepat pengembangan fitofarmaka nasional.

Baca Juga : 3 Tempat Ngopi Sunrise di Kota Batu yang Lagi Hits, View Gunung dan Lautan Kabutnya Bikin Betah

Kuliah tamu tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa maupun dosen. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi interaktif yang membahas berbagai persoalan nyata di industri herbal modern, mulai dari tantangan hilirisasi hasil penelitian, proses registrasi produk herbal, hingga peluang pengembangan fitofarmaka Indonesia di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai implementasi ilmu biologi, farmasi, dan bioteknologi dalam industri biofarmaka modern. Pendekatan akademik yang dipadukan dengan pengalaman praktis industri dinilai mampu memperluas wawasan peserta tentang masa depan pengembangan jamu berbasis sains di Indonesia.

Pelaksanaan kuliah tamu ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan pengembangan jamu berbasis ilmiah mendukung SDG 3 tentang Good Health and Well-being melalui penyediaan produk herbal yang aman dan teruji secara sains. Kegiatan tersebut turut mendukung SDG 4 mengenai Quality Education lewat pembelajaran kolaboratif antara akademisi dan praktisi industri.

Selain itu, pembahasan inovasi dan hilirisasi produk herbal mendukung implementasi SDG 9 terkait Industry, Innovation, and Infrastructure dalam pengembangan industri biofarmaka nasional yang kompetitif. Penekanan terhadap etika, keamanan produk, serta keberlanjutan sumber daya alam juga sejalan dengan SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production. Sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam kegiatan ini sekaligus menjadi wujud implementasi SDG 17 mengenai Partnerships for the Goals.


Topik

Pendidikan Saintifikasi jamu UB Universitas Brawijaya Departemen Biologi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kediri Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan