Dulu Ditakuti di Atas Ring, Kisah Memilukan Petinju Nasional yang Terpaksa Harus Dipasung | Kediri TIMES

Dulu Ditakuti di Atas Ring, Kisah Memilukan Petinju Nasional yang Terpaksa Harus Dipasung

Jun 19, 2021 18:37
Sugianto alias Gian Mugabe saat menunjukkan tangan kirinya yang dulu sempat jadi andalan ketika menjadi petinju (foto: Igoy/MalangTIMES)
Sugianto alias Gian Mugabe saat menunjukkan tangan kirinya yang dulu sempat jadi andalan ketika menjadi petinju (foto: Igoy/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Siang syahdu yang dipayungi langit mendung, tim Ngedum Ojir JatimTIMES Network kembali melangkahkan kaki. Kali ini, tujuan tim adalah kawasan Dusun Boro, Desa Sidodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. 

Perjalanan ini dimulai setelah sebelumnya tim Ngedum Ojir mendapatkan kabar adanya mantan petinju nasional yang terpaksa di pasung. Pria kekar yang dulu mengharumkan dunia tinju di Indonesia itu memiliki kisah haru yang sangat menyentuh hati.

Baca Juga : Airlangga Instruksi Menangkan Golkar di Pilpres 2024: Yang tidak Satu Komando Minggir Dulu

Perjalanan tim Ngedum Ojir ke Dusun Boro, Desa Sidodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dimulai dengan melewati Kecamatan Karangploso. Saat itu tim Ngedum Ojir menjemput Humas BMH Jatim Gerai Malang, Ruwiyanto sebagai jembatan penghubung kepada calon penerima bantuan.

Memanfaatkan proyek besar dari Presiden RI Joko Widodo, perjalanan tim Ngedum Ojir menjadi lebih cepat. Karena tim melewati jalan tol agar segera tiba di kediaman calon penerima bantuan.

Keluar pintu tol Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, tim kembali menjemput Kepala Staf Promosi Kesehatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dr Radjiman Wediodiningrat, Nur Asrori. Setiba disana, tim berbincang sebentar untuk mengetahui lokasi rumah mantan petinju nasional itu.

Memang Nur Asrori tak asing lagi dengan mantan petinju nasional yang bernama Sugianto itu. Pasalnya, dulunya petinju dengan nama panggung Gian Mugabe itu pernah akan dibawa ke RSJ dr Radjiman Wediodiningrat untuk mendapatkan perawatan.

Singkat cerita, tim kembali melakukan perjalanan menuju ke rumah Sugianto yang berada di Dusun Boro, Desa Sukodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Ya, sepanjang perjalanan tim sangat penasaran dengan sosok Gian Mugabe yang notabenya dulunya adalah atlet tinju. Namun kini harus dipasung karena kesehatan mentalnya yang terganggu.

Setibanya di rumah Gian Mugabe, rasa iba langsung muncul dari hati pewarta media ini. Rasa tersebut muncul lantaran rumah dengan lahan yang cukup besar itu nampak kurang terawat.

Meski nampak kurang terawat, namun rumah tersebut terlihat asri karena didepan juga ada dua pohon mangga dengan ukuran cukup besar.

Berlanjut masuk ke rumah dengan tiga pilar di depan sebelum tiba didepan pintu. Meja kursi ukir nampak masih utuh di ruang tamu yang bersandingan dengan dua kamar tidur.

Kamar tidur pertama, jika dilihat cukup unik. Karena masih ada tempat tidur susun berukuran tidak terlalu besar dengan dua bantal dan satu guling. Juga terdapat dua lemari penyimpan baju lawas yang juga ada didalam kamar tidur tersebut.

Kamar tidur kedua pun terdapat satu kasur dua lemari dan satu meja. Semua masih terlihat rapi karena memang keluarga Gian Mugabe setiap hari masih membersihkannya.

Lanjut ke ruang belakang, Direktur JatimTIMES Network Lazuardi Firdaus langsung bertatap muka dengan Gian Mugabe. Meski tidak terlalu dekat, namun kesan akrab langsung ditunjukkan oleh tim Ngedum Ojir.

Sugianto tidur dengan dipasung beralaskan kasur kapuk dan ditutupi triplek. Sekilas, jika dilihat dari depan pintu, tidak terlihat ada orang. Namun ternyata didalamnya ada orang yang dipasung.

Mulanya, Firdaus mengajak ngobrol Gian Mugabe tentang kapan masa lalunya sebagai petinju nasional. Meski dipasung tahunan, ternyata Gian Mugabe masih sedikit mengingat masa lalunya sebagai petinju di era 2000an itu.

“Iya dulu nama (panggung) nya Gian Mugabe, tanding 18 kali di Jakarta,” kata Sugianto singkat.

Meski mengatakan begitu, ditanya sekali lagi terkait dunia pertinjuan, Gian Mugabe sedikit tidak ingat dengan masa lalunya. “(Kalau) sama nasional belum pernah main,” kata dia.

Baca Juga : Serasa Terhipnotis, Museum Mainan Jadul di Jombang Ini Bikin Kita Kembali ke Masa Kecil

Firdaus pun merasa penasaran dengan tangan Gian Mugabe. Pasalnya, petinju kebanyakan terlihat dari tangannya sangat berotot. Dan benar saja, meski tidak terlihat cukup jelas, Sugianto bersedia menunjukkan tangan kirinya yang dulunya banyak mengalahkan lawannya.

Usai sedikit berbicara dengan Gian Mugabe, Firdaus lalu kembali ke ruang tamu untuk berbincang dengan Heri yang merupakan keponakan Sugianto.

Heri pun sedikit menceritakan awal mula Sugianto dipasung. Dijelaskannya, Gian Mugabe dulu kerap marah-marah ketika pulang bertanding dari Jakarta.

“Waktu itu saya masih SD, sering marah dulu ke keluarga tapi kalau sama orang, baik,” kata Heri.

Ditanya tentang tahunnya, Heri mengaku tidak ingat. Yang pasti, Gian Mugabe baru 10 tahun ini dipasung, karena keluarganya takut jika marah.

“10 tahun ini (dipasung) tapi tahun tepatnya saya lupa,” ucap dia.

Lebih lanjut, Heri mengaku bahwa Gian Mugabe dulunya dilatih oleh Nurhuda yang notabenya adalah petinju kawakan tahun 90an. Bahkan, Nurhuda pernah merebut sabuk juara Indonesia kelas bantam dan sabuk juara Indonesia kelas bulu yunior serta gelar juara WBC Intercontinental kelas bulu yunior dan gelar juara IBF Intercontinental kelas bulu yunior. Nurhuda terakhir bertinju di Javanoea Malang.

“Dulu dilatih sama Nurhuda dan Anto Baret di (sasana) Sawunggaling,” ungkap Heri.

Disisi lain, Nur Asrori mengaku bahwa pihaknya pernah akan membawa Sugianto ke RSJ dr Radjiman Wediodiningrat. Namun ketika masih ada orang tuanya, tidak diperkenankan.

“Dulu sama bapaknya ndak boleh dibawa ke RSJ. Tapi sama mbah Putri sebenarnya boleh. Dan mungkin sekarang jika keluarga berkenan bisa dibawa ke RSJ untuk mendapat perawatan,” ungkap Nur Asrori.

Terakhir, Lazuardi Firdaus, Ruwiyanto dan Nur Asrori memberikan bantuan kepada Gian Mugabe yang diserahkan melalui keponakannya tersebut. Pasalnya, setiap hari yang memberikan makan adalah keluarganya.

Program Ngedum Ojir tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari pembaca JatimTIMES Network untuk kemudian bisa disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Para pembaca JatimTIMES Network pun bisa menyampaikan kepeduliannya dan turut berbagi dengan mendatangi atau menghubungi kantor JatimTIMES.

Dengan program ini, diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan sedikit kebahagiaan serta memberikan inspirasi mengenai nilai-nilai kehidupan kepada pembaca setia JatimTIMES Network di mana pun berada.

Episode JatimTIMES Ngedum Ojir akan terus berlanjut untuk “Berbagi Kebahagiaan dan Mengukir Senyuman”.

Topik
ngedum ojir mantan petinju gian mugabe Kabupaten Malang

Berita Lainnya