Penghalang Terdepan Hijrah Muslim ke Habasyah, Dijuluki "Pembebas Mesir" | Kediri TIMES
Penentang Islam yang Akhirnya Jadi Pahlawan Islam  3

Penghalang Terdepan Hijrah Muslim ke Habasyah, Dijuluki "Pembebas Mesir"

May 07, 2021 17:51
Ilustrasi (Foto: Bincang Syariah)
Ilustrasi (Foto: Bincang Syariah)

INDONESIATIMES - Dalam sejarah perjalanan Islam, kaum Muslimin menerima banyak cobaan ketika berada di Makkah. Melihat hal itu Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk pergi ke negeri Habasyah karena disana terdapat Raja yang rakyatnya tidak berbuat dzalim ke kaum muslimin. 

Mendengar kabar itu maka kaum muslimin pergi dengan kelompok bergantian menuju Negeri Habasyah. Pergerakan kaum Muslimin ke negeri Habasyah ini lantas dikenal dengan hijrah pertama ke Negri Habasyah. 

Baca Juga : Niat, Hukum, Tata Cara dan Ketentuan Pelaksanaan Mengganti Puasa Ramadan

Peristiwa hijrah ini terjadi pada bulan Rajab, 5 tahun setelah Rasulullah SAW menerima wahyu. Mereka menuju Habasyah dengan menyewa perahu dagang. Adapun jumlah orang-orang yang berhijrah pada saat itu, maka para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan 11 laki-laki dan empat wanita. 

Ada yang mengatakan 12 laki-laki dan empat wanita. Dan ada juga yang mengatakan 12 laki-laki dan lima wanita.

Saat Kaum Quraisy mendengar kabar hijrahnya kaum muslimin ke Negeri Habasyah dan diterimanya kaum muslimin oleh Raja Najasi dengan baik, Kaum Quraisy memerintahkan 2 orang yakni Amr Bin Ash dan Abdullah Bin Abi Rabi'ah untuk menemui Raja Najasi. 

Hal itu memiliki maksud untuk menyuruh sang Raja mengusir kaum muslimin dari Negeri Habasyah. Begitu menghadap Raja Najasyi, 2 duta Quraisy ini bersujud kepada Sang Raja sebagai tanda hormat, kemudian duduk di sebelah kanan dan sebelah kiri Raja. 

Mereka berkata: “Sesungguhnya ada sekelompok orang dari keturunan paman kami tinggal di negeri Tuan. Mereka tidak menyukai kami, juga agama kami”.

Raja Najasyi balik bertanya: “Dimana mereka?”

Dua duta ini menjawab: “Di daerah Tuan. Kirimkan utusan kepada mereka!”.

Lalu Raja Najasyi mengirimkan kurir untuk memanggil kaum Muslimin yang datang ke Negeri Habasyah. Untuk memenuhi panggilan, maka Ja’far bin Abi Thalib berseru kepada teman-temannya sesama kaum Muslimin: “Pada hari ini, saya adalah juru bicara kalian,” mereka pun mengikuti Ja’far. 

Saat masuk ke tempat Raja Najasyi, Ja’far hanya mengucapkan salam tanpa bersujud. Orang-orang yang berada di ruang itu berseru: “Mengapa engkau tidak bersujud kepada Raja?” 

Ja’far menjawab,”Kami tidak bersujud, kecuali kepada Allah semata.” 

Raja Najasyi bertanya,”Siapa itu?” 

Ja’far menjawab,”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus seorang rasul kepada kami. Dia menyuruh kami agar tidak bersujud kepada siapapun, kecuali kepada Allah Azza wa Jalla, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.” 

Amr, duta Quraisy berujar: “Mereka bertentangan dengan Anda dalam masalah Isa bin Maryam.” 

Raja Najasyi bertanya,”Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam, dan juga tentang ibunya?” 

Ja’far menjawab,”Kami mengatakan sebagaimana Allah berfirman,’Isa adalah manusia (yang diciptakan oleh Allah dengan) kalimat dan ruh dari Allah yang disampaikan kepada Maryam, seorang gadis perawan yang tidak pernah dijamah manusia’.” 

Mendengar jawaban itu, Raja Najasyi mengangkat sebuah tangkai kayu dari atas tanah, lalu ia berseru: “Wahai, orang-orang Habasyah! Wahai, para pendeta! Demi Allah! Mereka tidak menambahkan perkataan apapun pada keyakinan kita tentang Isa. Kami mengucapkan selamat kepada kalian dan kepada orang yang mengutus kalian. Aku bersaksi, bahwa dia adalah Rasulullah. Dialah orang yang kami temukan di dalam kitab Injil. Dialah rasul yang dikabarkan oleh Isa bin Maryam. Tinggallah kalian di manapun yang kalian inginkan! Demi Allah, kalau bukan karena kekuasaan yang ada padaku, maka sungguh aku datangi dia, sehingga aku menjadi orang yang membawakan sandalnya.”

Baca Juga : Masjid Badshahi yang Kemegahannya Sudah Terlihat dari Jarak 16 Km, Pernah jadi Pangkalan Militer

Raja Najasyi pun lantas menyuruh pengawalnya untuk mengembalikan hadiah dari duta Quraisy ini, lalu duta inipun diusirnya. Mereka pun akhirnya pulang dengan membawa kekecewaan. Begitu juga kekecewaan menyelimuti orang-orang yang mengutusnya.

Sosok Amr bin Ash

Amr bin Ash merupakan orang cerdiknya bangsa Quraisy, laki-laki dunia dan orang yang dijadikan acuan dalam hal kecerdikan, kepintaran dan ketegasan. Ia hidup pada tahun 583-664 Masehi dan merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW. 

Amr bin Ash adalah putra dari pasangan Ash bin Wail dan Layla binti Harmalah alias An-Nabigha. Ia dikenal mahir dalam urusan politik, strategi perang, dan dalam bernegosiasi. 

Amr bin Ash juga pernah mengambil bagian dalam peperangan menentang Nabi Muhammad dan kaum Muslim, sebelum akhirnya masuk Islam.

Masuk Islam bersama Khalid dan Usman bin Talhah

Amr bin Ash adalah orang yang berhijrah kepada Rasulullah SAW. Ia menjadi seorang muslim di awal-awal tahun 8 H/630 M, bersamaan dengan Khalid bin Walid dan penjaga Kakbah, Ustman bin Thalhan. 

Amr bin Ash tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia masuk Islam tidak lama setelah dibebaskannya Kota Makkah. 

Amr berbai’at kepada Rasulullah dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk kejayaan Islam. Nabi Muhammad SAW tentu merasa gembira dengan kedatangan dan keIslaman mereka. 

Setelah masuk Islam, Nabi Muhammad SAW lantas mengangkat Amr bin Ash sebagai pemimpin pasukan dan menyiapkannya untuk
berperang. 

Sebagai Panglima perang, gubernur hingga dijuluki pembebas Mesir

Amr bin Ash merupakan salah satu dari 3 orang pemebesar Quraisy yang amat menyusahkan Rasulullah SAW. Namun Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat. Maka ditunjuki-Nya mereka jalan untuk menganut Islam dan Amr bin Ash pun beralih rupa menjadi seorang muslim pejuang, dan seorang panglima yang gagah berani.

Para ahli sejarah biasa memberi gelar Amr bin Ash sebagai "Penakluk Mesir". Namun, gelar paling tepat untuk Amr ialah  "Pembebas Mesir". Maksudnya adalah membebaskan dari cengkraman 2 kerajaan yang menjajah negeri tersebut serta rakyatnya. Membebaskan dari perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persia dan Romawi.

Di masa kekhalifahan Rasulullah, Amr pernah menjabat sebagai Gubernur Oman. Di masa Khalifah Umar bin Khattab, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Syiria, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.

Amr tidak hanya dikenal sebagai seorang pendekar tangguh dan panglima perang seperti Ali bin Abi Thalib. Tak hanya juga seorang diplomat ulung seperti Muawiyah. Namun ia juga merupakan seorang negarawan yang pintar memerintah. Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan berbicara memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa. 

Di pangkuan bumi Mesir, negeri yang diperkenalkannya dengan ajaran Islam itu bersemayamlah tubuh kasarnya. Di atas tanah itu, majelisnya yang selama ini digunakannya untuk mengajar, mengadili dan mengendalikan pemerintahan, masih tegak berdiri melalui kurun waktu, dinaungi oleh atap masjid Jami’u Amr yakni masjid yang pertama kali didirikan di Mesir.

Topik
pembebas mesir Amr bin Ash hijrah muslim ke habasyah raja najasyi

Berita Lainnya