Kisah Haru Buruh Wanita Hidup Sebatang Kara dan Memiliki Keterbelakangan Mental | Kediri TIMES

Kisah Haru Buruh Wanita Hidup Sebatang Kara dan Memiliki Keterbelakangan Mental

Apr 24, 2021 09:43
Buruh wanita yang hidup sebatang kara. (Foto: YouTube JatimTIMES)
Buruh wanita yang hidup sebatang kara. (Foto: YouTube JatimTIMES)

INDONESIATIMES - Program berbagi Ngedum Ojir JatimTIMES Network kembali hadir di bulan suci Ramadan 1442 H. Seperti diketahui di bulan suci ini sudah sepatutnya kita saling berbagi dan membantu yang membutuhkan. 

Kisah memprihatinkan sekaligus menggugah hati pada episode Ngedum Ojir Ramadan kali ini datang dari seorang buruh wanita bernama Masrufa. Tim Ngedum Ojir pun menyambangi persinggahan Masrufa yang ada di Dusun Genengan, Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Baca Juga : Pasca-Putusan DKPP, GMPK Pertanyakan Keabsahan Evi Novida sebagai Komisioner KPU RI

Seperti biasanya, program ini diawali dengan sambutan Direktur JatimTIMES Network Lazuardi Firdaus. Beliau ditemani General Manager JatimTIMES Heryanto dan tokoh masyarakat serta tokoh agama di Dusun Genengan. 

Firdaus menjelaskan bahwa Masrufa hidup sebatang kara. Ia tak memiliki anak dan suaminya sudah meninggal. Yang lebih memprihatinkan, Masrufa disebut memiliki keterbelakangan mental.

 Tak lama, Firdaus dan tim Ngedum Ojir menuju ke rumah Masrufa.  Tampak kondisi rumah Masrufa yang sangat sederhana. 

Firdaus pun bertanya kepada Masrufa apa pekerjaannya sehari-hari.  Masrufa menceritakan dirinya menjadi buruh temannya. Dia membantu mengunting-gunting jamur. "Bayarannya Rp 250 ribu per minggu," ujar Masrufa.  Dia juga mengatakan sang suami sudah meninggal dunia. 

Firdaus lantas menocba melihat-lihat kondisi rumah Masrufa. Dengan tertawa dan malu-malu, Masrufa mengataku dirinya hanya memasak nasi dan makan dengan ikan asin. 

Firdaus pun menuju ke dapur Masrufa. Sayangnya, ikan asin yang dibuat makan telah habis. 

Kemudian, tampak kondisi dapur yang cukup kotor dan tidak rapi. Firdaus juga melihat kamar tidur Masrufa. 

Di kamar itu, ditemukan kompos gas baru yang ternyata baru dibeli Masrufa dengan harga Rp 340 ribu. Kompor itu dibeli dari hasil keringatnya menjadi buruh di tempat kerja temannya. 

Baca Juga : Polres Malang Sita Alat Pembuatan Konten YouTube Hoaks Gus Idris

Tim Ngedum Ojir memberikan sedikit bantuan kepada Masrufa untuk kebutuhan sehari-hari. Heryanto menjelaskan  uang yang diterima Masrufa senilai Rp 1 juta. “Kulo dungakaken saget lungo kaji nggih (Saya doakan bisa naik haji ya; red),” ungkap Masrufa. 

Masrufa pun bersyukur mendapat rezeki itu dan mengucapkan terima kasih kepada tim Ngedum Ojir. " Matur nuwun nggih Pak, kulo dungaken rejekine katah (Terima kasih ya Pak, saya doakan rezekinya banyak; red)" kata Masrufa. 

Program Ngedum Ojir tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari pembaca JatimTIMES Network untuk kemudian bisa disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Para pembaca JatimTIMES Network pun bisa menyampaikan kepeduliannya dan turut berbagi dengan mendatangi atau menghubungi kantor JatimTIMES.

Dengan program ini, diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan sedikit kebahagiaan serta memberikan inspirasi mengenai nilai-nilai kehidupan kepada pembaca setia JatimTIMES Network di mana pun berada.

Episode JatimTIMES Ngedum Ojir akan terus berlanjut untuk “Berbagi Kebahagiaan dan Mengukir Senyuman”.

 

Topik
ngedum ojir program ngedum ojir

Berita Lainnya