Sidak Makanan Takjil, Ada Yang  Mengandung Kimia Berbahaya | Kediri TIMES

Sidak Makanan Takjil, Ada Yang Mengandung Kimia Berbahaya

Apr 15, 2021 23:09
Petugas menunjukkan makanan takjil yang mengandung boraks.(eko arif s/jatimtimes)
Petugas menunjukkan makanan takjil yang mengandung boraks.(eko arif s/jatimtimes)

KEDIRITIMES - Dinas Kesehatan Kota Kediri bekerja sama dengan Loka Pom atau Pengawasan Obat dan Makanan Kediri melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap penjual takjil di sepanjang Jalan Hayam Wuruk dan Sekartaji.

Tujuan dilakukannya sidak ini tak lain untuk mewaspadai adanya kandungan zat berbahaya dalam sajian hidangan menu berbuka puasa.

Baca Juga : Pastikan Makanan-Minuman Layak Konsumsi, Pemkot Kediri Gelar Sidak Takjil

Dalam sidak tersebut, petugas tak hanya melakukan penyisiran atau sekadar hanya melihat-lihat saja terhadap sajian menu takjil yang diperjualbelikan di sana. Tetapi, petugas juga langsung melakukan uji laboratorium di tempat.

Dari hasil sidak yang dilakukan tersebut, hasilnya cukup mengejutkan. Petugas menemukan sejumlah menu takjil yang diketahui mengandung zat kimia berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Fauzan Adima mengatakan, dari dua lokasi sidak yang dilakukan, yakni Jalan Hayam Wuruk dan Sekartaji, petugas akhirnya menemukan sajian menu takjil yang mengandung zat berbahaya. "Menu takjil yang diketahui terdapat zat berbahaya itu ditemukan di lokasi penjualan di Jalan Sekartaji. Sedangkan di Jalan Hayam Wuruk aman atau negatif dari unsur zat berbahaya," terangnya.

Fauzan mengaku, petugas mendapati tiga jenis menu takjil yang mengandung zat kimia berbahaya. Hal itu diketahui langsung dari hasil uji lab yang dilakukan petugas.

"Jadi di Jalan Sekartaji itu petugas memeriksa kurang lebih 14 sampel hidangan menu takjil yang diperjualbelikan di sana. Hasilnya memang ada 3 jenis menu takjil yang mengandung kandungan zat kimia berbahaya," ujarnya.

Fauzan membeberkan, tiga jenis takjil tersebut adalah kerupuk puli yang di dalamnya terdapat kandungan boraks. Selanjutnya kerupuk upil terdapat kandungan rodamil atau pewarna tekstil dan cincau hitam yang diketahui mengandung  boraks.

Atas temuan itu, Dinkes  akan melakukan pembinaan terhadap  si pedagang  agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Termasuk menarik sejumlah dagangan yang diketahui mengandung zat berbahaya tersebut.

"Dan seandainya para pedagang ini melakukan perbuatan yang sama, yakni tetap menjual barang dagangan dengan mengandung zat berbahaya, sanksi tegas yakni larangan tak boleh berjualan seumur hidup akan diberikan terhadap pihak yang bersangkutan," tandasnya.

Sementara, Muamanah -salah satu pembeli menu takjil-mengaku sangat mengapresiasi  adanya sidak yang dilakukan. Menurut Muamanah, sidak dan uji lab akan mengontrol para pedagang untuk berjualan.

Baca Juga : Hearing Reforma Agraria, DPRD Blitar Bahas Permasalahan Perkebunan Karangnongko

"Jadi, para pedagang ini tidak sembarangan dalam memperjualbelikan dagangannya, terutama dari segi pengolahan bahan dasar. Termasuk memberikan rasa aman bagi pembeli," katanya.

Diketahui, boraks adalah zat kimia yang terdapat dalam produk-produk rumah tangga seperti detergen, plastik, perabot kayu, dan kosmetik. Meski zat kimia satu ini memiliki banyak kegunaan dalam dunia industri, penggunaan yang tidak seharusnya bisa sangat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi jika masuk ke dalam tubuh lewat makanan.

Zat kimia ini sebenarnya pernah digunakan sejak tahun 1870 sebagai pengawet untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, khususnya ragi (jamur). Namun, penggunaan boraks pada zaman tersebut terbilang masih dalam batas yang aman.

Penggunaan boraks sebagai zat tambahan (adiktif) dalam makanan sudah dilarang dalam undang-undang di banyak negara. Termasuk juga di Indonesia. BPOM telah melarang penggunaan zat kimia ini untuk ditambahkan pada makanan. Pasalnya jika digunakan secara ilegal dengan dosis yang berlebihan, boraks menyimpan bahaya kesehatan yang tak boleh disepelekan. Boraks adalah bahan kimia berbahaya yang seharusnya tidak dicampurkan dalam makanan.

Sayangnya, masih saja banyak oknum pedagang yang secara sembunyi-sembunyi mencampurkan bahan kimia ini sebagai pengawet makanan agar tidak mudah busuk. Boraks juga umum dipakai untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal dan renyah.

Sedangkan, terkait dampak yang diberikan, boraks dalam dosis tinggi dapat meracuni semua sel-sel tubuh dan menyebabkan kerusakan usus, hati, ginjal, dan otak. Ginjal dan hati adalah dua organ yang mengalami kerusakan yang paling parah akibat mengonsumsi makanan yang mengandung boraks.

Topik
Berita Kediri Sidak makanan dan minuman

Berita Lainnya