Kirab Bersih Nagari HUT Tulungagung, Tetap Sakral meski Sederhana | Kediri TIMES

Kirab Bersih Nagari HUT Tulungagung, Tetap Sakral meski Sederhana

Nov 18, 2020 16:06
Bupati Tulungagung Maryoto Birowo  (kiri) saat menerima Pataka Lambang Tulungagung dari Ketua DPRD, Marsono / Joko Pramono- Jatim Times)
Bupati Tulungagung Maryoto Birowo (kiri) saat menerima Pataka Lambang Tulungagung dari Ketua DPRD, Marsono / Joko Pramono- Jatim Times)

Tanpa mengurangi kesakralannya, Kirab Bersih Nagari peringatan HUT ke-815 Tulungagung, di tengah pandemi Covid-19 digelar lebih sederhana dibandingkan tahun sebelumnya, Rabu (18/11/2020).

Perbedaan mencolok nampak pada jumlah tamu undangan yang hadir. Biasanya tamu undangan yang hadir hampir seribuan orang, kini hanya sekitar 300 orang.

Baca Juga : Bahas APBD 2021, Dewan Minta Gaji GTT dan PTT Setara UMK

Tamu yang diundang hanyalah Kepala OPD, DPRD dan tokoh agama dan masyarakat.

Pembatasan tamu undangan ini untuk menjaga adanya kerumunan di tengah pandemi Covid-19. Tamu juga wajib memakai masker dan mencuci tangan.  

“Kita enggak ingin mengadakan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan,” kata Bupati Tulungagung Maryoto Birowo.

Untuk menghindari kerumunan, pataka, buceng (tumpeng) Lanang dan Wadon yang biasanya diarak mulai Kantor Pemkab hingga pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso ditiadakan.

Kedua buceng yang biasanya diiringi oleh marching band dan pasukan penjaga ini cuma diarak mulai pintu masuk pendapa hingga depan pendapa yang berjarak sekitar 50 meter.

Setelah kirab, biasanya kedua buceng akan diarak keluar pendapa untuk diperebutkan oleh warga.  

Mengingat masa pandemi, rebutan buceng itu ditiadakan dan hanya diarak di dalam pendapa saja.

Buceng lanang terdiri dari nasi dan lauk pauk berupa ayam maupun lauk lainnya. Sedang buceng wadon berisi hasil bumi berupa sayur-sayuran dan buah-buahan.

“Hal ini untuk melaksanakan protokol kesehatan, jaga jarak agar Covid-19 bisa diputus mata rantainya,” kata Maryoto.

Dirinya berharap di usianya yang 815, Pemkab Tulungagung bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat.

Baca Juga : Tingkatkan SDM Peternak, Disnakan Kabupaten Blitar Gelar Pelatihan Pengolahan Limbah Ternak

Disinggung gelaran wayang kulit semalam suntuk untuk peringatan HUT, Maryoto katakan hal itu ditiadakan. Hanya saja prosesi ruwatan tetap dilaksanakan pada tanggal 20 pagi sekitar pukul 05.00 WIB.

“Kita lakukan yang pokok-pokok saja, tidak mengurangi kesakralan,” pungkasnya.

Sementara itu salah satu warga yang telah menunggu untuk prosesi rebutan buceng lanang dan wadong, Amir mengaku kecewa lantaran tidak bisa berebut isi buceng.

Amir mengaku tidak tahu jika rebutan buceng ditiadakan.

“Enggak tahu jika enggak ada, tahunya kalau kirab ada rebutan buceng,” ujar warga Desa Plosokandang tersebut.

Meski kecewa, Amir memaklumi hal itu. Memang di masa pandemi seperti saat ini rebutan buceng bisa menimbulkan kerumunan.

 

Topik
hut tulungagung ke 815 Bupati Tulungagung berita tulungagung

Berita Lainnya