Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono saat melukis Punakawan dengan ampas kopi (Eko Arif S/ JatimTIMES)
Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono saat melukis Punakawan dengan ampas kopi (Eko Arif S/ JatimTIMES)

Bagi sebagian orang, kopi adalah aroma kenikmatan. Bahkan, mereka tidak bisa lepas dari kopi saat menjalankan aktivitas sehari-hari.

Tidak demikian bagi AKP Bowo Wicaksono, pria yang menjabat sebagai Kapolsek Puncu ini melihat kopi dari sisi yang berbeda. Baginya, kopi bukan hanya aroma kenikmatan yang bisa diminum. Ia bahkan menjadikan kopi sebagai bahan untuk mengeskpresikan kreativitasnya.

Baca Juga : "White Heroes" Apresiasi Pelukis untuk Petugas Medis

Sejak berdinas di Polres Kediri AKP Bowo mulai membuat lukisan dari ampas kopi (Cethe). Berawal dari sisa kopi dari anggota yang minum kopi tercetus ide untuk menuangkannya ke dalam kanvas.

"Senang gambar sejak masih sekolah, namun kalau melukis dengan media kopi baru-baru ini saja sejak dinas di Polres Kediri. Daripada dibuang- buang cethe nya, saya tempelkan di kanvas saja dan menjadi sebuah lukisan," kata AKP Bowo.

Untuk menghasilkan karya lukisan kopi, AKP Bowo hanya membutuhkan kertas atau kanvas, endapan kopi, lem kayu dan semprotan anti jamur. Tak ada spesifikasi khusus pada jenis kopinya, yang penting berefek baik pada lukisan.

Kopi pada awalnya diseduh lalu dibiarkan mengendap selama beberapa waktu. Setelah sudah terlihat bentuk endapannya, ampas kopi dipindahkan ke piring kecil. Lalu tak lupa memasukkan lem kayu secukupnya untuk melukis sehingga ampas kopi dapat menempel pada kertas atau kanvas.

Tidak mudah melukis dari kopi. Sebab, kopi memiliki tingkat kekentalannya tersendiri. Jika dibiarkan terlalu lama, kopi akan menjadi padat. Namun jika terlalu banyak dikasih air, kopi akan mencair.

Kecintaannya terhadap karya seni, menjadikan AKP Bowo mahir dalam melukis berbagai gambar. Seperti salah satu contoh lukisan Punokawan yang ia gambar identik dengan Pamomong atau tukang momong. 

Baca Juga : Covid Art Museum, Ajak Publik Bikin Karya selama Masa Karantina Covid-19 secara Virtual

Makna lukisan Punokawan tutup mata, tutup telinga, tutup mulut bukan sebuah kecuekan terhadap lingkungan, namun kita bisa membatasi diri kita dengan indera kita itu untuk digunakan kepada hal yang bermanfaat.

Dengan lukisan, AKP Bowo setidaknya dapat menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.