Belajar Bisnis dari Pakarnya: Unikama Satukan Ide, Mental dan Inovasi lewat FGD Teknopreneurship
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
21 - Jan - 2026, 05:59
JATIMTIMES - Upaya mendorong mahasiswa berani melangkah ke dunia bisnis berbasis teknologi kembali digerakkan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang melalui Forum Group Discussion Kewirausahaan. Mengusung tema Penguatan Keunggulan dalam Teknopreneurship dan Inovasi, forum ini berlangsung selama dua hari, 19–20 Januari 2026, di Ruang Abdoel Radjab dengan skema hybrid yang menghubungkan ruang fisik dan ruang digital.
Forum ini tidak diposisikan sebagai seremoni akademik. Diskusi dirancang sebagai ruang adu gagasan, tempat mahasiswa menguji ide, membaca peluang, sekaligus mengukur kesiapan mental menghadapi dunia usaha yang serba cepat dan kompetitif.
Baca Juga : Bupati Sanusi Kunjungi SMPN 1 Karangploso, Pastikan Program Sekolah Unggulan Berjalan Lancar
Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Unikama, Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd., menyebut FGD ini sebagai langkah strategis untuk membiasakan mahasiswa berpikir keluar dari pola aman.
“Kami ingin mahasiswa tidak berhenti pada diskusi konsep. Forum ini kami arahkan agar menjadi ruang lahirnya ide dan keberanian berinovasi di bidang teknologi. Kolaborasi lintas kampus penting agar cara pandang mereka lebih luas,” ujarnya.

Respons peserta menunjukkan arah itu. Mahasiswa dari berbagai kota seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, hingga Blitar terlibat aktif dalam diskusi. Perbedaan latar belakang justru memperkaya sudut pandang dan memunculkan dinamika diskusi yang cair dan kritis.
Hari pertama forum menjadi ajang membedah lanskap teknopreneurship dari sisi strategi dan peluang. Dr. Wisnu S. Dewobroto, M.Sc., pakar kewirausahaan nasional sekaligus Dekan Fakultas Kewirausahaan dan Bisnis Universitas Podomoro, memaparkan arah pengembangan teknopreneurship yang menuntut kepekaan membaca perubahan pasar dan teknologi.
Diskusi dilanjutkan oleh Dr. Any Setyarini, SE., MM., CDMA., Kepala EDCC Universitas Semarang, yang menyoroti pentingnya strategi kompetisi bisnis agar usaha rintisan tidak berhenti di fase awal. Sementara itu, Jacobus Wiwin Kuswinardi, ST., S.Kom., M.Kom., dosen kewirausahaan Unikama, mengulas aspek teknis pengembangan inovasi mahasiswa agar ide bisnis mampu diterjemahkan menjadi produk yang aplikatif.
Pada hari kedua, diskusi bergeser dari soal ide dan strategi ke fondasi yang kerap luput dibahas, yakni karakter wirausaha. Daru Dewayanto, MCM, MCC, ICE-AC, Founder sekaligus Master Coach HADE, menekankan bahwa ketangguhan mental menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha.
Baca Juga : Bukan Sekadar Tes, STIE Malangkucecwara Bongkar Cara Dunia Kerja Menilai Kandidat
Ia menegaskan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Menurutnya, teknopreneurship tidak hanya berbicara tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan individu dalam menghadapi tekanan, perubahan, dan ketidakpastian.
“Teknologi bisa dipelajari, tapi mental pantang menyerah harus dibangun. Tanpa itu, ide bagus sekalipun bisa berhenti di tengah jalan,” kata Daru di hadapan peserta.
Forum hari kedua ditutup dengan pengenalan program Center of Agility, sebuah inisiatif yang diperkenalkan khusus kepada Unikama. Program ini dirancang untuk melatih kelincahan berpikir dan bertindak bagi calon wirausahawan muda agar mampu beradaptasi dengan dinamika dunia usaha.
Melalui pertemuan gagasan, pengalaman praktisi, dan penguatan karakter, Unikama menegaskan posisinya sebagai ruang tumbuh bagi mahasiswa yang ingin melampaui status pencari kerja dan mulai membangun usaha berbasis inovasi.
