Kerajaan Surabaya 1620: 30 Ribu Prajurit, Benteng Wali Songo dan Meriam Buatan Sendiri
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Dede Nana
15 - Jul - 2025, 03:06
JATIMTIMES - Di balik tembok Kota Surabaya yang perkasa pada awal abad ke-17, terpatri jejak spiritual Sunan Ngampel Denta—salah satu figur sentral Wali Songo—yang diyakini menurunkan para adipati pesisir.
Dalam pandangan De Graaf (2001: 74), para raja Surabaya di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 menempatkan diri sebagai bagian dari trah suci Ampel Denta.
Baca Juga : Seragam Gratis Direalisasi, Komitmen Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Babad Tanah Jawi (1939–1941) maupun Serat Kandha turut mengafirmasi silsilah ini, menghubungkan benang genealogis Surabaya dengan arus spiritualitas pesisir yang pernah membesarkan Demak.
Lepasnya Surabaya dari orbit Demak menandai babak baru. Malapetaka Panarukan 1546 yang menelan Sultan Trenggana tak hanya merontokkan sendi kekuasaan Demak, tetapi juga memecah pusat kendali Walisanga.
Di celah kehancuran inilah Surabaya perlahan tumbuh sebagai kerajaan pesisir dengan karakter kosmopolitan: terbuka pada pelabuhan-pelabuhan luar, tangguh di jalur niaga, sekaligus teguh menjaga pengaruh Islam tarekat di pedalaman.
Menjelang tahun 1589, menurut De Graaf (2001: 135–138), Surabaya telah diakui sebagai musuh utama Mataram yang kala itu masih digdaya di bawah Panembahan Senapati.
Pengetahuan detail mengenai siapa raja Surabaya ketika itu memang kabur, tetapi nama-nama seperti Adipati Surabaya atau Pate—sebutan Portugis untuk gelar bangsawan Jawa—berkali-kali muncul dalam catatan Portugis dan Belanda.
Di antara kepingan ingatan yang tersisa, muncul sosok yang kelak dikenal sebagai Raja Tua Buta—seorang pemimpin lanjut usia yang memerintah Surabaya pada awal abad ke-17. Ia adalah Panembahan Jaya Lengkara, ayah dari Pangeran Pekik, Pangeran Indrajid, Pangeran Wirodarmo, dan Pangeran Trunajaya (bukan Trunajaya pemberontak Mataram di masa Amangkurat I).
Kota Tangguh di Pesisir Kali Mas
Penjelajah Belanda, Artus Gijsels (1871b: 534–535), meninggalkan catatan yang menggambarkan betapa Surabaya telah menjelma menjadi kota benteng pesisir dengan sistem pertahanan yang mengagumkan. Dikelilingi parit lebar dan baluwarti, tembok kota Surabaya membentang sepanjang 30 kilometer lebih—angka yang bagi sejarawan modern mencerminkan kapasitas logistik dan militer yang luar biasa untuk ukuran kerajaan Nusantara kala itu.
Setiap jarak setengah tembakan meriam berdiri poinct, benteng kecil berbentuk bujur sangkar. Masing-masing pos memiliki 10–12 meriam, sebagian di antaranya buatan Surabaya sendiri. Teknologi pengecoran logam, sebagaimana diamati Gijsels, telah mencapai tingkat cukup maju, dengan cetakan meriam disimpan di bengkel-bengkel dekat istana.
Di pinggir Kali Mas, keraton Raja Surabaya berdiri—sebuah kompleks tembok batu yang menampung rumah-rumah kayu, pohon lindung (warigin) yang dipangkas rapi, dan alun-alun yang menjadi arena pertemuan raja dengan bangsawan.
Bagi para tamu asing, audiensi dengan Raja Surabaya kerap menjadi pengalaman eksotis. Steven van der Haghen pada 7 Februari 1607 mencatat betapa Raja Tua—yang buta namun tak kehilangan wibawa—meraba hadiah kain sutra dari kepala perdagangan VOC, Paulus van Solt.
Dalam audiensi itu, sang raja memanggil para istri dan selirnya, membagi hadiah, sambil menanyakan hal-hal ganjil bagi telinga bangsa Belanda: anjing, kucing, dan tikus. Detail-detail kecil ini justru membuka jendela batin: raja buta itu tampaknya tidak kehilangan rasa ingin tahu pada kebaruan dunia luar.
30.000 Prajurit dan Pertahanan yang Gagal
Pada tahun 1620, ketegangan antara Surabaya dan Mataram mencapai puncaknya. Menurut catatan Artus Gijsels, ketika kabar tentang pasukan Mataram yang mendekat menyebar di jalanan Surabaya, kota itu seolah tidak berkurang penduduknya—padahal 30.000 prajurit bersenjata lengkap telah dikerahkan untuk menghadang Panembahan Hanyakrawati, putra Senapati.
Mengapa Surabaya begitu percaya diri? Jawabannya terletak pada jalinan aliansi niaga, teknologi tempur, dan kepercayaan spiritual. Raja Tua Buta, meskipun renta dan kehilangan penglihatan, masih dilihat sebagai penjaga legitimasi Ampel Denta.
Di bawahnya, generasi muda seperti Panembahan Jaya Lengkara dan Pangeran Pekik berperan menjaga benteng-benteng terdepan di Lamongan, Mojoagung, hingga Kediri—gugus pertahanan luar yang memayungi Surabaya bak sabuk pengaman.
Namun, pertahanan tangguh tidak menjamin kemenangan. Serangan Mataram menaklukkan kota-kota satelit satu demi satu. Giri Kedaton di Gresik, yang menjadi pusat spiritual dan intelektual Islam pesisir, dipaksa tunduk.
Penaklukan Giri bukan sekadar operasi militer, melainkan peristiwa simbolik: penundukan ulama karismatik yang dianggap benteng independensi pesisir dari hegemoni agraris pedalaman.
Dalam catatan VOC, pengepungan Surabaya memakan waktu panjang, dengan blokade sungai yang mematikan jalur perbekalan. Walau tembok kokoh dan meriam siap menyalak, kelaparan dan demoralisasi membelah kesetiaan prajurit.
Akhirnya, kota jatuh—dan Raja Tua Buta wafat tidak lama kemudian, meninggalkan kursi kekuasaan pada generasi penerus yang harus berunding dengan Sultan Agung.
Jaya Lengkara dan Pangeran Pekik: Warisan Darah dan Pena
Setelah Panembahan Jaya Lengkara—sang Raja Tua Buta—wafat, tahta Surabaya jatuh ke tangan putranya, Pangeran Pekik. Kejatuhan Surabaya ke tangan Mataram menandai peralihan status kota itu: dari kerajaan merdeka menjadi wilayah bawahan, dengan Pangeran Pekik menjabat sebagai adipati di bawah kekuasaan Sultan Agung.
Sosok Pangeran Pekik tergambar ambigu dalam berbagai babad. Di satu sisi, ia dilukiskan sebagai bangsawan tangguh; di sisi lain, sebagai figur kontemplatif yang lebih memilih jalan diplomasi dan kebudayaan. Hubungan darahnya dengan Sultan Agung dikukuhkan melalui pernikahan: Pangeran Pekik dinikahkan dengan Ratu Pandansari, adik Sultan Agung—sebuah simbol penyatuan trah pesisir dan trah Mataram.
Dalam logika kekuasaan Jawa abad ke-17, perkawinan semacam ini bukan sekadar perjanjian keluarga, tetapi kontrak spiritual dan politis. Perjodohan ini memadamkan resistensi, sekaligus menandai pergeseran ideologi: Surabaya, pusat Walisanga pesisir, harus tunduk pada mistik raja pedalaman yang dikukuhkan wahyu keprabon.
Astana yang Menjadi Hutan, Legenda yang Tetap Hidup
Keraton tua Surabaya yang pernah menjulang di pinggir Kali Mas pada akhirnya runtuh seiring ekspansi Mataram. François Valentijn (1724–1726) masih mencatat reruntuhannya sebagai Astana pada 1708: tembok besar, taman semak belukar, dan bekas-bekas baluwarti yang kian terlupakan.
Bukit kecil di sekitar baluwarti, yang oleh rakyat dijuluki dortmansbergje, menjadi saksi bisu pertempuran dan pembantaian yang menandai penaklukan Surabaya.
Baca Juga : Pemkot Kembangkan 32 Inovasi Sosial untuk Kesejahteraan Warga Surabaya
Bahkan ketika Sunan Amangkurat III, raja Mataram yang dikudeta Pangeran Puger, ditawan dan nyaris ditempatkan di bekas Astana ini, kondisi keraton begitu rusak hingga para pejabat Kompeni pun enggan menjadikannya kediaman resmi.
Dalam surat G. Cnoll dari Surabaya tertanggal 1 Agustus 1708, ia menyebut bagaimana keraton butut itu lebih menyerupai kuburan sejarah: tembok roboh, halaman ditumbuhi belukar liar, namun tetap memancarkan aura kebesaran yang membayang.
Ideologi, Spiritualitas, dan Dendam Sejarah
Kisah Surabaya 1620 bukan sekadar cerita tentang kota berdinding tebal dan meriam buatan sendiri. Ia adalah cermin pertarungan ideologi antara dunia pesisir—kosmopolit, terbuka pada jalur niaga, hidup dari laut dan tarekat—dengan dunia pedalaman Mataram yang agromistis, menegaskan kuasa raja sebagai raja imam.
Penaklukan Surabaya menandai penaklukan satu cara hidup: dari trah Walisanga ke tangan penguasa yang memusatkan wahyu keprabon di Kotagede.
Ironi paling tajam terletak pada nasib para pewarisnya. Pangeran Pekik, anak Panembahan Jaya Lengkara, kelak hidup di istana Sultan Agung sebagai menantu raja. Di sanalah, menurut catatan C.E. Winter (1882) dan De Graaf (1941), ia menulis Serat Jaya Lengkara Wulang, membumikan kisah Damarwulan, dan merintis wayang krucil—sebuah bentuk akulturasi budaya pesisir ke panggung keraton.
Perlawanan fisik boleh kalah, tetapi resistensi kebudayaan tetap hidup dalam suluk, babad, dan pertunjukan wayang.
Dalam kesadaran kolektif Jawa, dendam sejarah Surabaya tetap membayang. Kisah raja tua yang buta, prajurit 30.000 orang, benteng yang runtuh, dan meriam buatan sendiri menjadi fragmen ingatan bahwa kebesaran pesisir pernah menggetarkan pedalaman. Ia juga pengingat bagaimana kekerasan penaklukan selalu menanam dendam, yang kemudian menjelma dalam narasi mistik, klaim silsilah, dan mimpi kebangkitan.
Surabaya yang Tak Pernah Benar-benar Padam
Kini, reruntuhan benteng itu telah lenyap ditelan aspal, gang-gang, dan gedung-gedung modern. Namun, di antara ziarah ke makam Sunan Ampel, cerita Raja Tua Buta tetap hidup. Sejarawan, peziarah, dan budayawan menggali serpihan-serpihan sejarah untuk merangkai kembali puzzle yang tercerai.
Surabaya 1620 adalah pelajaran bagaimana sebuah kota membangun kebesaran di atas spiritualitas, senjata, dan kosmopolitanisme niaga. Ia juga pengingat betapa sejarah Jawa tidak pernah hanya diwarnai pedang, tetapi juga pena, suluk, dan dendam yang mengalir melalui jalur darah.
Sejarah tidak pernah padam, hanya berpindah bentuk—dan Surabaya tetap berdiri di tepi Kali Mas, meriamnya sudah sunyi, tetapi gaungnya tak pernah benar-benar mati.
Pangeran Pekik dan Peranannya dalam Budaya Mataram: Dari Suluk hingga Wayang Krucil
Di antara deretan bangsawan Jawa abad ke-17, nama Pangeran Pekik kerap terbenam di balik bayang Sultan Agung atau Panembahan Senapati. Namun dalam penelusuran historiografi kritis, sebagaimana diingatkan oleh sejarawan seperti H.J. de Graaf, sosok bangsawan Surabaya ini justru menjadi simpul penting transformasi budaya Jawa: ia jembatan antara tradisi maritim pesisir dan mistisisme agraris pedalaman Mataram.
Lahir sebagai putra Panembahan Jayalengkara, raja Surabaya terakhir yang diduga keturunan darah Sunan Ampel, Pekik mewarisi dua pusaka sakral: legitimasi spiritual dan tradisi kosmopolit pesisir. Ketika Surabaya jatuh pada 1625 di tangan Sultan Agung, Pangeran Pekik bukan dihukum mati, melainkan diangkat sebagai menantu lewat pernikahannya dengan Ratu Pandan Sari, adik Sultan Agung.
Dari sinilah diplomasi darah memadatkan loyalitas sekaligus membuka jalan rekonsiliasi dua peradaban: Islam pesisir dan kekuasaan keraton.
Sejak 1628, kediaman Pangeran Pekik dipindah ke jantung Mataram di Kotagede. Menurut catatan Van Goens dan peta kuno istana, kawasan Kasurabayan menjadi semacam enklave budaya pesisir di tengah istana Sultan Agung. Bagi Belanda, istana kecil Pangeran Pekik ini adalah ‘mata air’ informasi tentang dinamika kekuasaan Mataram. Namun lebih dari itu, Kasurabayan memancar sebagai pusat suluk, sastra, hingga tafsir spiritual Jawa-Islam.
Dalam struktur kuasa, Pekik tidak tampak agresif. Ia tidak memimpin pasukan dalam arti komandan lapangan. Namun, ketika Mataram menaklukkan Giri Kedaton — benteng independensi ulama pesisir — nama Pangeran Pekik justru tampil sebagai ‘pendamai’ simbolik. Keberadaannya meredam dendam darah antara tarekat pesisir dengan tahta Mataram. Daya pengaruhnya bersifat soft power, bukan pedang tapi pena.
Di ranah kebudayaan, warisannya jauh lebih menukik. C.E. Winter menyebut Pekik penulis Serat Jaya Lengkara Wulang — karya suluk Jawa yang sarat petuah moral dan spiritual. De Graaf menegaskan Pekik terlibat aktif dalam revitalisasi naskah-naskah sastra Jawa Timur, seperti kisah heroik Damarwulan, yang kemudian ia pentaskan dengan medium inovatif: wayang krucil. Seni pertunjukan ini memadukan estetika pesisir — dinamis dan terbuka — dengan khidmat mistisisme keraton.
Inovasi wayang krucil bukan sekadar kesenian. Ia adalah simbol akulturasi kultural. Dari pertunjukan ringkas ini, lakon-lakon Damarwulan menjelma sarana didaktik untuk menanamkan moralitas dan cita-cita kebangsaan Jawa. Sejarawan L. de Serrurier mendokumentasikan peristiwa penting tahun 1671, saat Pekik memerintahkan pementasan wayang krucil di Kasurabayan sebagai wahana pembelajaran sejarah kerajaan Majapahit.
Jejak transformatif lain adalah usahanya menerjemahkan teks Melayu ke Jawa. Kisah “Cariasipun Sultan Iskandar” — yang semula beredar di Giri dalam bentuk Melayu klasik — dibawa Pekik ke Mataram melalui jaringan khatib-khatib tarekat. Bagi istana, terjemahan ini menjadi ‘jembatan emas’ antara khazanah maritim pesisir dengan simbol kebesaran raja di pedalaman.
Dalam ranah spiritual, Pekik menulis suluk-suluk yang disebar ke pesantren elit. Naskah-naskahnya menjadi bahan ajar para santri tarekat. Ia dikenal rakyat sebagai Panembahan Pekik, bukan sekadar bangsawan, melainkan juga “pujangga praja” — pemikir kebangsaan Jawa. Dalam tradisi lisan, ia disebut “Gagak Emprit”, lambang bangsawan merakyat yang menolak kekerasan, tetapi menundukkan zaman dengan budaya.
Ramalan mistik menambah aura sakral peranannya. Konon, ketika berziarah ke makam Sultan Hadiwijaya, Pekik menerima ‘wahyu keprabon’: cucunya kelak naik tahta Mataram. Ramalan itu mewujud dalam diri Amangkurat II, putra dari pernikahan putrinya dengan Amangkurat I. Ketika Plered runtuh dilanda pemberontakan Trunajaya, hanya garis darah Pekik yang meneguhkan legitimasinya di mata elite Mataram dan VOC.
Maka, Pangeran Pekik adalah penjelmaan mediator budaya: penyulam halus antara Surabaya pesisir dan Mataram pedalaman. Ia membuktikan bahwa sejarah tidak hanya milik pedang, melainkan juga milik pena, suluk, dan pentas. Dalam dialektika kuasa Jawa abad ke-17, warisannya menegaskan bahwa kebudayaan bisa menjadi senjata paling ampuh — membentuk peradaban, meredam dendam sejarah, dan menyalakan bara identitas di tengah badai kekuasaan.
