Ekspor Jatim Turun 4,54 Persen Semester I 2026, Impor Justru Melonjak 16,04 Persen
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
04 - Aug - 2026, 04:30
JATIMTIMES - Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur pada semester pertama 2026 menunjukkan tren yang berlawanan antara ekspor dan impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat ekspor Januari hingga Juni 2026 turun 4,54 persen menjadi 13,43 miliar dolar Amerika Serikat, sementara nilai impor meningkat 16,04 persen menjadi 16,51 miliar dolar Amerika Serikat dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Penurunan ekspor terjadi seiring melemahnya kinerja ekspor nonmigas maupun migas. Sementara peningkatan impor didorong oleh naiknya permintaan terhadap bahan baku, barang konsumsi, hingga barang modal.
Baca Juga : 13 Provinsi Masih Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Agustus 2026, Ada Jatim
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati mengatakan penurunan ekspor semester pertama 2026 terutama disebabkan melemahnya ekspor nonmigas sebesar 3,70 persen dan ekspor migas yang turun jauh lebih dalam hingga 42,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Nilai ekspor Jawa Timur Januari-Juni 2026 mencapai 13,43 miliar dolar Amerika Serikat atau turun 4,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh ekspor nonmigas yang turun 3,70 persen, sedangkan ekspor migas turun 42,99 persen,” kata Herum.
Secara bulanan, nilai ekspor Jawa Timur pada Juni 2026 juga mengalami kontraksi. Nilai ekspor tercatat sebesar 2,52 miliar dolar Amerika Serikat, turun 10,95 persen dibandingkan Juni 2025, sedangkan ekspor nonmigas mencapai 2,51 miliar dolar Amerika Serikat atau turun 9,33 persen.
Di antara komoditas ekspor utama, tembaga (HS 74) menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar. Nilai ekspor komoditas tersebut meningkat 29,27 persen atau bertambah 360,21 juta dolar Amerika Serikat menjadi 1,59 miliar dolar Amerika Serikat, dengan tujuan utama Tiongkok senilai 426,71 juta dolar Amerika Serikat dan Thailand sebesar 414,31 juta dolar Amerika Serikat.
Selain tembaga, komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) juga mencatat kenaikan 26,15 persen menjadi 1,37 miliar dolar Amerika Serikat. Sementara bahan kimia organik (HS 29) meningkat 16,73 persen menjadi 611,73 juta dolar Amerika Serikat, dengan Tiongkok masih menjadi pasar terbesar.
Sebaliknya, penurunan paling tajam terjadi pada komoditas perhiasan atau permata (HS 71). Nilai ekspornya merosot 46,35 persen atau berkurang 1,35 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 1,57 miliar dolar Amerika Serikat, meski Hong Kong dan Singapura masih menjadi negara tujuan utama.
“Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah tembaga, sedangkan penurunan terdalam terjadi pada komoditas perhiasan atau permata dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” imbuh Herum.
BPS juga mencatat Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Timur sepanjang Januari hingga Juni 2026. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai 2,22 miliar dolar Amerika Serikat atau berkontribusi 16,76 persen terhadap total ekspor nonmigas Jawa Timur.
Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai ekspor mencapai 1,97 miliar dolar Amerika Serikat. Komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut antara lain ikan dan hasil olahannya, perabotan rumah tangga, serta produk kayu.
Dari sisi kawasan, ekspor Jawa Timur ke ASEAN justru meningkat 12,61 persen menjadi 2,98 miliar dolar Amerika Serikat. Sementara ekspor ke Uni Eropa naik 8,39 persen menjadi 892,51 juta dolar Amerika Serikat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut sektor usaha, industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekspor Jawa Timur dengan nilai 12,69 miliar dolar Amerika Serikat atau menguasai 94,49 persen dari total ekspor nonmigas. Namun, sektor tersebut tetap mengalami penurunan 2,70 persen, diikuti sektor pertanian yang turun 21,46 persen dan sektor pertambangan serta lainnya yang melemah 25,70 persen.
Berbeda dengan ekspor, kinerja impor Jawa Timur justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi pada semester pertama 2026. Nilai impor mencapai 16,51 miliar dolar Amerika Serikat, terdiri atas impor nonmigas 13,39 miliar dolar Amerika Serikat dan impor migas 3,12 miliar dolar Amerika Serikat.
Herum menjelaskan peningkatan impor didorong oleh naiknya impor nonmigas sebesar 12,75 persen, sedangkan impor migas meningkat lebih tinggi hingga 32,67 persen dibandingkan semester pertama 2025.
“Nilai impor Jawa Timur Januari–Juni 2026 mencapai 16,51 miliar dolar Amerika Serikat atau naik 16,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini dipicu menguatnya impor nonmigas maupun migas,” jelasnya.
Komoditas impor yang mengalami kenaikan tertinggi adalah buah-buahan (HS 08) yang melonjak 37,51 persen atau bertambah 193,69 juta dolar Amerika Serikat. Selanjutnya disusul komoditas pupuk (HS 31) yang meningkat 26,38 persen serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) yang naik 23,31 persen.
Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar Jawa Timur dengan nilai mencapai 5,21 miliar dolar Amerika Serikat atau menyumbang 38,94 persen dari total impor nonmigas. Setelah itu disusul Amerika Serikat sebesar 764 juta dolar Amerika Serikat dan Korea Selatan sebesar 601,79 juta dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan penggunaannya, impor Jawa Timur masih didominasi bahan baku dan penolong dengan nilai 13,19 miliar dolar Amerika Serikat atau berkontribusi 79,90 persen terhadap total impor. Adapun impor barang konsumsi mencapai 1,81 miliar dolar Amerika Serikat, sedangkan impor barang modal tercatat 1,51 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang Januari hingga Juni 2026.
